TERLAHIR
KEMBALI
Seorang wanita
muslimah yang sholeha, tutur katanya lembut, berjiwa sosial, aktifis, intinya sosok
akhwat sejati yah itulah defenisi sebagian besar orang terhadapnya bahkan
akupun sangat kagum kepadanya. Walaupun ia yang kerap di panggil Laurent si jibab
lebar, karena jilbabnya memang lebih lebar dibanding gadis seumurannya, tapi
itu tidak menjadi penghalang baginya untuk berbaur dan meyatu dengan kami.
Laurent bukan
berasal dari keluarga ustadz yang paham agama dan sebagainya, melainkan dari
keluarga yang awam dan berkepala biru. Semua anggota keluarganya kaya raya,
berpengetahuan luas tapi sayang kurang berilmu. Pengetahuan dan ilmu itu beda,
pengetahuan menyangkut dunia dan ilmu menyangkut dunia dan akhirat. Mungkin
karena ia menyadari kekurangannya itu maka ia pun mulai belajar agama sedikit
demi sedikit yang ia dapat dari paman google secara otodidat. Semua informasi
tentang agama yang ia dapatkan dirangkum dalam sebuah buku kemudian mulai
menerapkannya. Ia mulai belajar mengenali Tuhannya, sholat, menjalankan
sunnah-sunnah rasulullah dan sebagainya. Setelah ia merasa sudah sedikit tahu
tentang agama, artinya sudah dapat membentengi dirinya, ia pun mendakwakannya
pada keluarga sama seperti nabi dulu. Laurent tidak mendapatkan respon yang positif
bahkan kedua orang tuanya sekalipun berkata “ setan apa yang menobatkanmu anak
tengik? ” tetapi laurent berusaha sabar dan tersenyum. Ia terus berdakwa kepada
keluarganya tak peduli ejekan saudara-saudaranya yang menyayat hati. Hingga
akhirya keluarganya mendapat hidayah dan mau mendengar apa yang lauren selama
ini katakan entah mungkin alasannya karena tidak ada efek negative yang di
timbulkan atau apalah, wallahu alam. Setelah itu lauren dan keluarganya yang
memang terkenal sebagai keluarga yang ramah mulai berdakwa kepada tetangganya
dan ke penduduk lampung lainnya. Inilah hidayah Allah keluarga yang awalnya
sangat ambu-radu, selalu hanyut dalam kemewahan dunia kini menjadi sebuah
keluarga da’i yang gemar berdakwa.
Bertahun-tahun kemudian
sudah sekitar 80
masyarakat
di daerah tersebut mau belajar agama dan mendalaminya. Hingga tiba suatu hari
Lauren ingin berhijrah ke tempat lain, ia ingin berdakwa disana dan melanjutkan
sekolahnya, ia pun menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya,
“ummi, Laurent
ingin berhijrah ke tempat lain seligus ingin melanjutkan sekolah Laurent hingga
S3, apakah ummi mengizinkan?”
“dimana tempatnya
Laurent?” katanya umminya dengan muka datar
“suatu tempat yang
penduduknya penuh dengan kebatilan, hanya dihitung jari yang paham agama, nama
tempatnya Broncerter, Ummi?”
“tidak, ummi tidak
mengizikanmu pergi ke tempat itu! Apakah Laurent yakin bisa menjaga diri
Laurent dan menjamin keselamatan laurent?”
“ummi, segala sesuatu
itu sudah diatur oleh Allah, baik buruknya hal yang akan terjadi itu sudah
menjadi takdir Allah, jadi Ummi tak perlu khawatir ada Allah yang menjaga
Laurent kok, insyaAllah laurent akan baik-baik saja” kata Laurent dengan penuh
kelembutan
“ya sudahlah nak,
kalau memang itu keinginanmu silahkan pergi kami merestuimu, tapi ingat jangan
sekali-kali lupa pada Allah. Kapan Laurent akan balik?”
“iya ummi, syukron.
insyaAllah di ramadhan ke 7 setelah tahun ini Laurent akan balik”.
Tanggal
keberangkatan Laurent pun telah tiba, ia akan pergi berhijrah di jalan Allah
dengan berbekal semangat, ilmu dan sedikit harta yang di bawanya. Namun siapa
sangka ini adalah awal bala bencana yang menimpanya.
Tiba di kota
tersebut ia akan menjalani kehidupan barunya yang lebih menantang yang di penuhi
orang-orang asing di sekitarnya, tak ada kerabat yang di kenalinya hanya Allah
saja yang menemaninya. Setelah menyewa apartement yang dekat dari bandara itu,
ia pun beristirahat dan mulai menata baik-baik hal yang akan di lakukan
kedepannya. Belum lagi sempat menutup mata, kebisingan, music yang menggelegar
yang bersumber dari suatu diskotik, bau alcohol telah menyeruak masuk ke dalam
kamarnya. Ternyata tepat di samping apartemennya ada sebuah diskotik besar yang
di huni oleh para penikmat dunia, buka 12 jam dari jam 06 malam hingga jam 06
pagi. Karena tak dapat tidur Laurent pun membuka mushab al-qur’annya dan mulai
membacanya hingga hatinya tenang dan dapat tertidur lelap. Keesokan harinya
Laurent keluar dari apartemennya, bermaksud untuk menanyakan dimana kampus
terdekat yang menyajikan fakultas untuk kedokteran. Ia pun bertemu dengan
seorang wanita yang berpakaian sutra tak cukup, nampaknya ia baru pulang dari
diskotik tersebut
“permisi, bolehkah
aku bertanya?” kata Laurent sopan
“iya” dengan tatapan
sinis wanita tersebut mengiyakan
“terima kasih,
dimana kampus terdekat yang bisa di jangkau dari sini?”
“kenapa? aku lagi
buru-buru lain kali saja jawabannya” jawab wanita tersebut berlalu
“iya, maaf sista”
sebenarnya ada perasaan kecewa dari hati Laurent, awalnya ia berharap ada
sebuah jawaban yang baik darinya karena nampaknya seorang yang berpendidikan
tapi nyatanya ia malah mengacuhkan pertanyaannya. Kemudian Laurent terus
berjalan berharap ada seseorang yang baik hati yang akan menunjukkan jalan ke
fakultas yang di inginkannya. Tak terasa matahari sudah berada di atas
kepalanya sementara ia belum menemukan setidaknya mushallah dulu untuk sholat
dan istirahat. Dia berfikiran untuk balik ke apartementnya dulu tapi terlihat
dikejauhan ada sebuah rumah yang menandakan ada kehidupan, maklum saja di
sepanjang jalan memang banyak rumah yang di laluinya tapi sepertinya sedang
kosong. laurent pun melangkah kembali, ternyata di rumah tersebut ada beberapa
wanita yang mungkin usianya masih 20-an, tetapi sedang asyik bersama para
kekasihnya.
“Hei lihat tuh,
orang katro’ berjalan, hari gini pakai baju gitu isss, sudah ngg’ jaman kale.
Hahaha dasar kudet” kata salah satu dari mereka menggunjing
“Mirip orang tua
dulu saja, sekarang tuh dunia sudah berubah, sudah modern jeng, ngaca’ dong”
dengan tatapan sinis meremehkan salah satu dari mereka menimpali. Tetapi
Laurent tidak mengindahkan kata-katanya, ia terus mendekat dan berkata
“Assalamu’alaikum,
maaf mengganggu waktunya sebentar, boleh saya bertanya?” kata Laurent
memberanikan diri bertanya kepadanya
“Mau nanya’ apa? Di
sini ng’ jual jubah” jawab salah seorang temannya sambil tertawa
Laurent tetap sabar
dan kembali berkata:
“Afwan,
universitars yang punya fakultas kedokteran ada tidak dekat sini ukhty?
Mushollahnya ada ukhty?” kata Laurent lembut
“Haaa? Di sini ngngak
ada nama afwan jeng, ehh kudet. Salah alamat kale! Huuu”
“Yee kudet-kudet
tapi cantik juga yah, hahhaha lembut lagi, wuih” kata seorang pemuda meliriknya
“Ada koq jeng untuk
fakultas kedokteran dari sini lurus saja ke sana, sekitar
meterlah, kalau untuk mushollahnya, sini aku antar
ke rumahku saja, karena ng’ ada mushollah di sini jeng, ada tapi jauh banget,
yuk” kata wanita yang hitam manis tersebut, hanya dia yang menjawabnya dengan
baik, kemudian mengantarkannya ke rumahnya
“Dasar sok-sokkan
loh, sok berhati malaikat”, kata salah satu temannya mengejeknya
“Syukron katsiron
ukhty, mari.”
Singkat cerita
laurent pun kembali ke apartemennya, setelah bersalaman dan pamit untuk pulang.
Di perjalanan, Laurent tak henti-hentinya mengingat Allah, dan takkan pernah
melupakan saudaranya tadi yang telah banyak berjasa.
Setibanya di
apartement laurent langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok,
kemudian beristirahat. Hari-harinya berjalan dengan lancar, semua urusannya
dengan mudah terselesaikan. Tak sulit baginya mendapatkan banyak teman baru,
dan nilai A dalam ujiannya, orangnya yang supel, ramah dan memiliki kecerdasan
di atas rata-rata sangat patut dibanggakan. Berbagai prestasi dapat di raihnya,
namanya begitu terkenal Laurent Aurela Arika satu-satunya perempuan berjilbab
lebar yang sangat cantik dan menawan dalam fakultasnya. Akan tetapi keimanannya
mulai menipis, tak sering lagi mengingat Allah. Laurent hampir saja lupa akan
tujuan untamanya untuk berdakwah, ia hampir saja hanyut dalam duniawinya, kalau
bukan karena Allah yang mengingatkan Laurent lewat mimpinya akan pesan-pesan
ibunya sebelum berangkat mungkin ia akan seperti temannya yang sekarang ini.
Setiap malam banyak temannya yang berdatangan keapartemennya untuk menginap
setelah pulang dari diskotik, tak jarang Laurent merasa risih terhadap bau alkohol
dan asap rokok, tapi ia tak enak hati menyuruhnya pulang. Hingga..
“Werra, gimana sih
rasanya ? itu yang biasa kau minum hingga mabuk?” Tanya Laurent pensaran.
Sebenarnya Laurent sudah hampir terlena akan apa yang ada dihadapannya hanya
teman-temannya mengingatkannya walaupun hanya sebagian kecil.
“Ini tuh namanya
bir, awalnya orang yang meminum akan mengatakan kecutlah, nga’ enaklah, apalah
tapi lama kelamaan akan kecanduan juga. Tapi kalau Laurent mau coba jangan yah,
nga’ baik sih tapi enak hehe”
“Sudah cobakan saja
werra siapa tau Laurent mau mencoba, maklumkan jilbabers. Hehe piss”
“Aku penasaran
pengen coba, coba dikit deh, bagi dong lilu ” kata Laurent sudah mulai goyah
akan pendiriannya
“Jangan rent” kata
werra mencoba melarang
“Sudahlah kamu saja
kan minum, kasih saja biar Laurent tau rasanya”
Laurent pun
mencobanya, setelah mencobanya sedikit ia hampir saja muntah tidak tahan dengan
baunya, tapi setelah itu ia minta lagi dan lagi. Malam itu Laurent menghabiskan
2 botol wine. Malam-malam berikutnya pun demikian selalu saja mabuk, mulai
belajar merokok, ke diskotik bahkan sudah melepaskan jilbabnya dan tak lagi
mengingat Allah. Sejak malam kemarin Laurent sudah hanyut dalam kesenangan yang
ia peroleh, pesan-pesan ibunya sudah ia abaikan. Bahkan ibunya menelpon
berkali-kali ia tidak mengangkatnya, tidak peduli apakah itu penting atau tidak.
Berpakaian seperti layaknya teman-teman lainnya hanya saja masih agak tertutup
sedikit. Teman-teman di kelasnya berkomentar
“Laurent kamu
kenapa? Mana jilbab kamu yang selalu menutupi keindahan tubuhmu? Mana sikap
tawadu’ kamu? Kenapa kamu seperti ini?” kata wira prihatin yang merupakan teman
dekat laurrent.
“Ada di rumah ke
tinggalan tadi” jawab Laurent seadanya.
Sikap laurent yang
sekarang berbalik 180
dari yang
dulu tak ada lagi sikap muslimahnya, tak ada lagi rasa malunya, memamerkan
auratnya yang memanjakan mata lelaki yang melihatnya.
Sekarang sudah
memasuki ramadhan yang ke 7, tapi Laurent lupa akan janjinya kepada umminya
bahwa akan pulang saat ramadhan ke 7 mendatang, bukan saja janjinya ia pun lupa
akan kedua orang tuanya, tak pernah lagi memberi kabar dan menghubungi orang
tuanya. Barang-barang perbekalannya hampir habis di jualnya demi mendapatkan
obat-obatan terlarang. Dan malam itupun
tiba.
Dua malam terakhir
sebelum idhul fitri, teman-teman terdekat laurent berencana untuk berlebaran
bersama di daerah Sumigo, akan tetapi Laurent tiba-tiba menghilang,
teman-temannya tak tau dimana Laurent berada, di hubungi berkali-berkali tetapi
tidak ada jawaban. Teman-temannya mulai cemas akan keadaan Laurent, tak
biasanya laurent begini. Semuanya berpencar mencari Laurent. Di sisi lain,
laurent telah di sekap di daerah terpencil oleh sekelompok lelaki yang tidak di
kenalinya. Laurent pun sadar, ketika sadar ia tak tau di mana dia berada
sekarang. Tak ada orang, hanya takbir ramadhan idul fitri yang menggema di
menara-menara mesjid. “Allaahu akbar, allahuakbar, allahu akbar,
laailaaha illallaahu allahuakbar, allahu akbar walillaa ilham” Laurent pun
menangis sejadi-jadinya bukan karena ia di sekap melainkan akan dosa-dosanya
yang selama ini ia perbuat ia telah melupakan Allah, ia telah jauh dari Allah
tidak lagi menjalankan ibadah-ibadah yang kemarin rutin di lakukannya, tidak
pernah lagi lagi berpuasa selama 4 ramadhan terakhir. Menyesal, berlinangan air
mata memohon ampun pada sang khalik akan dosa-dosanya selama ini.
“Hah! Apa yang kau
tangisi tak akan ada yang menolongmu dasar bedebah!” kata salah seorang
diantaranya yang bertubuh paling kekar
“Malam ini kamu
akan menjadi santapan kami. bodymu boleh juga yah, haha” kata yang lain
menimpali
Laurent hanya diam,
sedikitpun ia tak gentar akan ancaman para lelaki itu. Kepercayaannya akan
kuasa Allah telah membuatnya kuat dan penghayatannya terhadap alunan takbir
ramadhan idhul fitri itu telah menutup telinganya untuk mendengar kata-kata
kotornya. Yang ada di fikirannya hanya bagaimana caranya bisa keluar dan
bersuci kemudian menemui rumah Allah itu.
“Hei jangan
melamun! Atau ku pecahkan kepalamu. Siapa namamu lonte?”
Kata-katanya yang
begitu keras membangunkan Laurent dari lamunannya.
“Laurent pak”
“nama yang indah
seindah tuannya. Cari makan dulu yuk lapar nih, sekalian juga buat dia”
Para lelaki itupun
pergi mncari makan. Sementara Laurent berusaha untuk melepaskan diri, ia
berusaha mencari cara dan mendapati pecahan beling kemudian memotong tali
pengikat tangannya. Ia pun membuka handphonenya menghubungi teman-temannya
untung handphoonenya mempunyai software LJS jadi sekarang ia tau dimana laurent
berada. Setelah ia pun membaca sms yang mauk dalah satu dari kedua orang tuanya
“assalamu’alaykum
Laurent sayang, bagaimana kabarnya sekarang nak? Sekarang sudah memasuki tahun
ke 7 ramadhan, sebagaimana janjimu, waktunya kamu pulang nak. Sungguh ummi
sangat mengkhawatikanmu. 2 bulan lalu kami tertimpa musibah terjadi gempa dahsyat.
Alhamdulillah kami semua selamat. Pada bulan berikutnya abamu jatuh sakit, ia
terserang penyakit leukimia, setelah sebulan sakit ia mengigau-ngigau namamu,
ia begitu rindu padamu nak,ia berpesan jika Laurent pulang nanti ia ingin
menjadi orang yang pertama memelukmu dan melaksanakan haji ke baitullah
bersamamu nak, tetapi tak selang beberapa hari ia pun di panggil oleh sang maha
Agung, tak banyak yang bisa kami perbuat kami pun menghubungimu tetapi tidak
Laurent angkat. Cepat pulang nak kami sangat merindukanmu, semoga Allah selalu
melindugimu. Aamiin. Ummi”
Penyesalan tiada
tara menyelimuti hati lautrent, ia pun menangis dan terus menangis sambil
menyebut nama ummi dan abanya. Sebelum para lelaki itu datang, teman-temannya
sudah datang menyelamatkannya, dan kembali ke apartement. Di perjalanan ia
hanya diam seribu kata, teman-temannya bingung namun bahagia melihat Laurent
kembali. Tiba di apartement, Laurent langsung mensucikan diri, kemudian sholat
wajib, dan sholat taubat. Takbir ramadhan masih menggema, malam itu ia tidak
tidur, terus menjalankan ibadah kepada Allah. Memohon taubat kepadaNya,
berpuasa keesokan harinya dan kembali ke kampung halamannya. Tapi sebelumnya ia
berpesan kepada teman-temannya:
“Kejadian
kemarin yang menimpaku sungguh karena
aku telah lalai kepadaNya, aku telah
sempat melupakannya. Kuasa Allah, Alhamdulillah beruntung aku masih berada
dalam lindungannya,
disadarkannya
hingga detik terakhir bulan suci bisa ku raih, di sebabkan Allah melalui takbir
dalam ramadhan itu sebelumnya aku telah terlena dengan kemewahan dunia yang akan menggelapkanku, kemudian aku sadar betapa
besar keangungan Allah, bentuk tubuh dan panorama yang indah hanya salah satu
dari
perwujudannya. Sejuknya iman bisa ku raih
hanya dengan dekat kepadanya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar