Rabu, 10 Desember 2014

Azyan

TERLAHIR KEMBALI
Seorang wanita muslimah yang sholeha, tutur katanya lembut, berjiwa sosial, aktifis, intinya sosok akhwat sejati yah itulah defenisi sebagian besar orang terhadapnya bahkan akupun sangat kagum kepadanya. Walaupun ia yang kerap di panggil Laurent si jibab lebar, karena jilbabnya memang lebih lebar dibanding gadis seumurannya, tapi itu tidak menjadi penghalang baginya untuk berbaur dan meyatu dengan kami.
Laurent bukan berasal dari keluarga ustadz yang paham agama dan sebagainya, melainkan dari keluarga yang awam dan berkepala biru. Semua anggota keluarganya kaya raya, berpengetahuan luas tapi sayang kurang berilmu. Pengetahuan dan ilmu itu beda, pengetahuan menyangkut dunia dan ilmu menyangkut dunia dan akhirat. Mungkin karena ia menyadari kekurangannya itu maka ia pun mulai belajar agama sedikit demi sedikit yang ia dapat dari paman google secara otodidat. Semua informasi tentang agama yang ia dapatkan dirangkum dalam sebuah buku kemudian mulai menerapkannya. Ia mulai belajar mengenali Tuhannya, sholat, menjalankan sunnah-sunnah rasulullah dan sebagainya. Setelah ia merasa sudah sedikit tahu tentang agama, artinya sudah dapat membentengi dirinya, ia pun mendakwakannya pada keluarga sama seperti nabi dulu. Laurent tidak mendapatkan respon yang positif bahkan kedua orang tuanya sekalipun berkata “ setan apa yang menobatkanmu anak tengik? ” tetapi laurent berusaha sabar dan tersenyum. Ia terus berdakwa kepada keluarganya tak peduli ejekan saudara-saudaranya yang menyayat hati. Hingga akhirya keluarganya mendapat hidayah dan mau mendengar apa yang lauren selama ini katakan entah mungkin alasannya karena tidak ada efek negative yang di timbulkan atau apalah, wallahu alam. Setelah itu lauren dan keluarganya yang memang terkenal sebagai keluarga yang ramah mulai berdakwa kepada tetangganya dan ke penduduk lampung lainnya. Inilah hidayah Allah keluarga yang awalnya sangat ambu-radu, selalu hanyut dalam kemewahan dunia kini menjadi sebuah keluarga da’i yang gemar berdakwa.
Bertahun-tahun kemudian sudah sekitar 80  masyarakat di daerah tersebut mau belajar agama dan mendalaminya. Hingga tiba suatu hari Lauren ingin berhijrah ke tempat lain, ia ingin berdakwa disana dan melanjutkan sekolahnya, ia pun menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya,
“ummi, Laurent ingin berhijrah ke tempat lain seligus ingin melanjutkan sekolah Laurent hingga S3, apakah ummi mengizinkan?”
“dimana tempatnya Laurent?” katanya umminya dengan muka datar
“suatu tempat yang penduduknya penuh dengan kebatilan, hanya dihitung jari yang paham agama, nama tempatnya Broncerter, Ummi?”
“tidak, ummi tidak mengizikanmu pergi ke tempat itu! Apakah Laurent yakin bisa menjaga diri Laurent dan menjamin keselamatan laurent?”
“ummi, segala sesuatu itu sudah diatur oleh Allah, baik buruknya hal yang akan terjadi itu sudah menjadi takdir Allah, jadi Ummi tak perlu khawatir ada Allah yang menjaga Laurent kok, insyaAllah laurent akan baik-baik saja” kata Laurent dengan penuh kelembutan
“ya sudahlah nak, kalau memang itu keinginanmu silahkan pergi kami merestuimu, tapi ingat jangan sekali-kali lupa pada Allah. Kapan Laurent akan balik?”
“iya ummi, syukron. insyaAllah di ramadhan ke 7 setelah tahun ini Laurent akan balik”.
Tanggal keberangkatan Laurent pun telah tiba, ia akan pergi berhijrah di jalan Allah dengan berbekal semangat, ilmu dan sedikit harta yang di bawanya. Namun siapa sangka ini adalah awal bala bencana yang menimpanya.
Tiba di kota tersebut ia akan menjalani kehidupan barunya yang lebih menantang yang di penuhi orang-orang asing di sekitarnya, tak ada kerabat yang di kenalinya hanya Allah saja yang menemaninya. Setelah menyewa apartement yang dekat dari bandara itu, ia pun beristirahat dan mulai menata baik-baik hal yang akan di lakukan kedepannya. Belum lagi sempat menutup mata, kebisingan, music yang menggelegar yang bersumber dari suatu diskotik, bau alcohol telah menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Ternyata tepat di samping apartemennya ada sebuah diskotik besar yang di huni oleh para penikmat dunia, buka 12 jam dari jam 06 malam hingga jam 06 pagi. Karena tak dapat tidur Laurent pun membuka mushab al-qur’annya dan mulai membacanya hingga hatinya tenang dan dapat tertidur lelap. Keesokan harinya Laurent keluar dari apartemennya, bermaksud untuk menanyakan dimana kampus terdekat yang menyajikan fakultas untuk kedokteran. Ia pun bertemu dengan seorang wanita yang berpakaian sutra tak cukup, nampaknya ia baru pulang dari diskotik tersebut
“permisi, bolehkah aku bertanya?” kata Laurent sopan
“iya” dengan tatapan sinis wanita tersebut mengiyakan
“terima kasih, dimana kampus terdekat yang bisa di jangkau dari sini?”
“kenapa? aku lagi buru-buru lain kali saja jawabannya” jawab wanita tersebut berlalu
“iya, maaf sista” sebenarnya ada perasaan kecewa dari hati Laurent, awalnya ia berharap ada sebuah jawaban yang baik darinya karena nampaknya seorang yang berpendidikan tapi nyatanya ia malah mengacuhkan pertanyaannya. Kemudian Laurent terus berjalan berharap ada seseorang yang baik hati yang akan menunjukkan jalan ke fakultas yang di inginkannya. Tak terasa matahari sudah berada di atas kepalanya sementara ia belum menemukan setidaknya mushallah dulu untuk sholat dan istirahat. Dia berfikiran untuk balik ke apartementnya dulu tapi terlihat dikejauhan ada sebuah rumah yang menandakan ada kehidupan, maklum saja di sepanjang jalan memang banyak rumah yang di laluinya tapi sepertinya sedang kosong. laurent pun melangkah kembali, ternyata di rumah tersebut ada beberapa wanita yang mungkin usianya masih 20-an, tetapi sedang asyik bersama para kekasihnya.
“Hei lihat tuh, orang katro’ berjalan, hari gini pakai baju gitu isss, sudah ngg’ jaman kale. Hahaha dasar kudet” kata salah satu dari mereka menggunjing
“Mirip orang tua dulu saja, sekarang tuh dunia sudah berubah, sudah modern jeng, ngaca’ dong” dengan tatapan sinis meremehkan salah satu dari mereka menimpali. Tetapi Laurent tidak mengindahkan kata-katanya, ia terus mendekat dan berkata
“Assalamu’alaikum, maaf mengganggu waktunya sebentar, boleh saya bertanya?” kata Laurent memberanikan diri bertanya kepadanya
“Mau nanya’ apa? Di sini ng’ jual jubah” jawab salah seorang temannya sambil tertawa
Laurent tetap sabar dan kembali berkata:
“Afwan, universitars yang punya fakultas kedokteran ada tidak dekat sini ukhty? Mushollahnya ada ukhty?” kata Laurent lembut
“Haaa? Di sini ngngak ada nama afwan jeng, ehh kudet. Salah alamat kale! Huuu”
“Yee kudet-kudet tapi cantik juga yah, hahhaha lembut lagi, wuih” kata seorang pemuda meliriknya
“Ada koq jeng untuk fakultas kedokteran dari sini lurus saja ke sana, sekitar meterlah, kalau untuk mushollahnya, sini aku antar ke rumahku saja, karena ng’ ada mushollah di sini jeng, ada tapi jauh banget, yuk” kata wanita yang hitam manis tersebut, hanya dia yang menjawabnya dengan baik, kemudian mengantarkannya ke rumahnya
“Dasar sok-sokkan loh, sok berhati malaikat”, kata salah satu temannya mengejeknya
“Syukron katsiron ukhty, mari.”
Singkat cerita laurent pun kembali ke apartemennya, setelah bersalaman dan pamit untuk pulang. Di perjalanan, Laurent tak henti-hentinya mengingat Allah, dan takkan pernah melupakan saudaranya tadi yang telah banyak berjasa.
Setibanya di apartement laurent langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok, kemudian beristirahat. Hari-harinya berjalan dengan lancar, semua urusannya dengan mudah terselesaikan. Tak sulit baginya mendapatkan banyak teman baru, dan nilai A dalam ujiannya, orangnya yang supel, ramah dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata sangat patut dibanggakan. Berbagai prestasi dapat di raihnya, namanya begitu terkenal Laurent Aurela Arika satu-satunya perempuan berjilbab lebar yang sangat cantik dan menawan dalam fakultasnya. Akan tetapi keimanannya mulai menipis, tak sering lagi mengingat Allah. Laurent hampir saja lupa akan tujuan untamanya untuk berdakwah, ia hampir saja hanyut dalam duniawinya, kalau bukan karena Allah yang mengingatkan Laurent lewat mimpinya akan pesan-pesan ibunya sebelum berangkat mungkin ia akan seperti temannya yang sekarang ini. Setiap malam banyak temannya yang berdatangan keapartemennya untuk menginap setelah pulang dari diskotik, tak jarang Laurent merasa risih terhadap bau alkohol dan asap rokok, tapi ia tak enak hati menyuruhnya pulang. Hingga..
“Werra, gimana sih rasanya ? itu yang biasa kau minum hingga mabuk?” Tanya Laurent pensaran. Sebenarnya Laurent sudah hampir terlena akan apa yang ada dihadapannya hanya teman-temannya mengingatkannya walaupun hanya sebagian kecil.
“Ini tuh namanya bir, awalnya orang yang meminum akan mengatakan kecutlah, nga’ enaklah, apalah tapi lama kelamaan akan kecanduan juga. Tapi kalau Laurent mau coba jangan yah, nga’ baik sih tapi enak hehe”
“Sudah cobakan saja werra siapa tau Laurent mau mencoba, maklumkan jilbabers. Hehe piss”
“Aku penasaran pengen coba, coba dikit deh, bagi dong lilu ” kata Laurent sudah mulai goyah akan pendiriannya
“Jangan rent” kata werra mencoba melarang
“Sudahlah kamu saja kan minum, kasih saja biar Laurent tau rasanya”
Laurent pun mencobanya, setelah mencobanya sedikit ia hampir saja muntah tidak tahan dengan baunya, tapi setelah itu ia minta lagi dan lagi. Malam itu Laurent menghabiskan 2 botol wine. Malam-malam berikutnya pun demikian selalu saja mabuk, mulai belajar merokok, ke diskotik bahkan sudah melepaskan jilbabnya dan tak lagi mengingat Allah. Sejak malam kemarin Laurent sudah hanyut dalam kesenangan yang ia peroleh, pesan-pesan ibunya sudah ia abaikan. Bahkan ibunya menelpon berkali-kali ia tidak mengangkatnya, tidak peduli apakah itu penting atau tidak. Berpakaian seperti layaknya teman-teman lainnya hanya saja masih agak tertutup sedikit. Teman-teman di kelasnya berkomentar
“Laurent kamu kenapa? Mana jilbab kamu yang selalu menutupi keindahan tubuhmu? Mana sikap tawadu’ kamu? Kenapa kamu seperti ini?” kata wira prihatin yang merupakan teman dekat laurrent.
“Ada di rumah ke tinggalan tadi” jawab Laurent seadanya.
Sikap laurent yang sekarang berbalik 180  dari yang dulu tak ada lagi sikap muslimahnya, tak ada lagi rasa malunya, memamerkan auratnya yang memanjakan mata lelaki yang melihatnya.
Sekarang sudah memasuki ramadhan yang ke 7, tapi Laurent lupa akan janjinya kepada umminya bahwa akan pulang saat ramadhan ke 7 mendatang, bukan saja janjinya ia pun lupa akan kedua orang tuanya, tak pernah lagi memberi kabar dan menghubungi orang tuanya. Barang-barang perbekalannya hampir habis di jualnya demi mendapatkan obat-obatan terlarang.  Dan malam itupun tiba.
Dua malam terakhir sebelum idhul fitri, teman-teman terdekat laurent berencana untuk berlebaran bersama di daerah Sumigo, akan tetapi Laurent tiba-tiba menghilang, teman-temannya tak tau dimana Laurent berada, di hubungi berkali-berkali tetapi tidak ada jawaban. Teman-temannya mulai cemas akan keadaan Laurent, tak biasanya laurent begini. Semuanya berpencar mencari Laurent. Di sisi lain, laurent telah di sekap di daerah terpencil oleh sekelompok lelaki yang tidak di kenalinya. Laurent pun sadar, ketika sadar ia tak tau di mana dia berada sekarang. Tak ada orang, hanya takbir ramadhan idul fitri yang menggema di menara-menara mesjid. “Allaahu akbar, allahuakbar, allahu akbar, laailaaha illallaahu allahuakbar, allahu akbar walillaa ilham” Laurent pun menangis sejadi-jadinya bukan karena ia di sekap melainkan akan dosa-dosanya yang selama ini ia perbuat ia telah melupakan Allah, ia telah jauh dari Allah tidak lagi menjalankan ibadah-ibadah yang kemarin rutin di lakukannya, tidak pernah lagi lagi berpuasa selama 4 ramadhan terakhir. Menyesal, berlinangan air mata memohon ampun pada sang khalik akan dosa-dosanya selama ini.
“Hah! Apa yang kau tangisi tak akan ada yang menolongmu dasar bedebah!” kata salah seorang diantaranya yang bertubuh paling kekar
“Malam ini kamu akan menjadi santapan kami. bodymu boleh juga yah, haha” kata yang lain menimpali
Laurent hanya diam, sedikitpun ia tak gentar akan ancaman para lelaki itu. Kepercayaannya akan kuasa Allah telah membuatnya kuat dan penghayatannya terhadap alunan takbir ramadhan idhul fitri itu telah menutup telinganya untuk mendengar kata-kata kotornya. Yang ada di fikirannya hanya bagaimana caranya bisa keluar dan bersuci kemudian menemui rumah Allah itu.
“Hei jangan melamun! Atau ku pecahkan kepalamu. Siapa namamu lonte?”
Kata-katanya yang begitu keras membangunkan Laurent dari lamunannya.
“Laurent pak”
“nama yang indah seindah tuannya. Cari makan dulu yuk lapar nih, sekalian juga buat dia”
Para lelaki itupun pergi mncari makan. Sementara Laurent berusaha untuk melepaskan diri, ia berusaha mencari cara dan mendapati pecahan beling kemudian memotong tali pengikat tangannya. Ia pun membuka handphonenya menghubungi teman-temannya untung handphoonenya mempunyai software LJS jadi sekarang ia tau dimana laurent berada. Setelah ia pun membaca sms yang mauk dalah satu dari kedua orang tuanya
assalamu’alaykum Laurent sayang, bagaimana kabarnya sekarang nak? Sekarang sudah memasuki tahun ke 7 ramadhan, sebagaimana janjimu, waktunya kamu pulang nak. Sungguh ummi sangat mengkhawatikanmu. 2 bulan lalu kami tertimpa musibah terjadi gempa dahsyat. Alhamdulillah kami semua selamat. Pada bulan berikutnya abamu jatuh sakit, ia terserang penyakit leukimia, setelah sebulan sakit ia mengigau-ngigau namamu, ia begitu rindu padamu nak,ia berpesan jika Laurent pulang nanti ia ingin menjadi orang yang pertama memelukmu dan melaksanakan haji ke baitullah bersamamu nak, tetapi tak selang beberapa hari ia pun di panggil oleh sang maha Agung, tak banyak yang bisa kami perbuat kami pun menghubungimu tetapi tidak Laurent angkat. Cepat pulang nak kami sangat merindukanmu, semoga Allah selalu melindugimu. Aamiin. Ummi
Penyesalan tiada tara menyelimuti hati lautrent, ia pun menangis dan terus menangis sambil menyebut nama ummi dan abanya. Sebelum para lelaki itu datang, teman-temannya sudah datang menyelamatkannya, dan kembali ke apartement. Di perjalanan ia hanya diam seribu kata, teman-temannya bingung namun bahagia melihat Laurent kembali. Tiba di apartement, Laurent langsung mensucikan diri, kemudian sholat wajib, dan sholat taubat. Takbir ramadhan masih menggema, malam itu ia tidak tidur, terus menjalankan ibadah kepada Allah. Memohon taubat kepadaNya, berpuasa keesokan harinya dan kembali ke kampung halamannya. Tapi sebelumnya ia berpesan kepada teman-temannya:
Kejadian kemarin yang menimpaku sungguh karena aku telah  lalai kepadaNya, aku telah sempat melupakannya. Kuasa Allah, Alhamdulillah beruntung aku masih berada dalam lindungannya, disadarkannya hingga detik terakhir bulan suci bisa ku raih, di sebabkan Allah melalui takbir dalam ramadhan itu sebelumnya aku telah terlena dengan kemewahan dunia yang akan menggelapkanku, kemudian aku sadar betapa besar keangungan Allah, bentuk tubuh dan panorama yang indah hanya salah satu dari  perwujudannya. Sejuknya iman bisa ku raih hanya dengan dekat kepadanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar