DI-A dalam DIRInya
IMMIER IN LIEBER (selalu didalam cinta)
Tulisan adalah jiwa yang akan menghidupkan raga yang telah mati.
Sabtu, 02 Mei 2015
Rabu, 24 Desember 2014
lembaran baruku telah terbuka
GOOD BYE MASYGUL, WELCOME EUFORIA
“Ayolah
hati bersabarlah, berhenti menggerutu, nikmatilah kemacetan ini”
“Bagaimana
mungkin aku akan bersabar. 2.100 detik dari sekarang, aku harus tiba disana.
Terlambat satu detik saja gajiku akan dipotong. Dan sekarang untuk pertama
kalinya, aku terjebak macet separah ini, melaju 100cm, berhenti 240 detik,
melaju lagi, berhenti lagi. Sompral. Tuhan uangku akan dicuri oleh waktu.
Tolonglah, singkirkan semua kendaraan yang ada di depanku ini. Ah- ini semua
salah mereka. Egois”
“Kamu
juga egois. Tidak sepenuhnya salah mereka. Mengapa harus memakai mobil padahal
kamu sendiri. Boros waktu dan tempat. Seharusnya untuk ukuran mobil kamu, dapat
menghemat 2-3 kendaraan beroda dua. Jadi dapat meminimalisir penyebab kemacetan
selain kecelakaan dan mobil-mobil besar pengangkut barang”
Debat
sengit antara hati dan fikiranku terus memanas. Tidak ada yang mau dikalah dan
mengalah, tapi walaupun demikian anggota tubuhku yang lain tetap pro terhadap
hatiku. Karena sampai detik ini aku masih menyakini hati nurani tidak pernah
salah, yang salah adalan adalah ketika saraf implus menyampaikan pesan dari
hati ke otak, ada bumbu-bumbu godaan syeitan laknatullah yang turut andil,
sehingga apabila benteng pertahanan tidak cukup kuat maka pesan tersebut akan
tercemar, dan yang terbaca di otak adalah hasil rekayasa syeitan.
Kali
ini fikiran mengalah karena bagimanapun tidak ada celah untuk menang ,maka
jadilah yang memegang kendali adalah hati. Untuk sedikit menenangkan fikiran
kuputar lagu favoritku sepanjang jalan
kenangan hingga tidak terasa mobilku telah melaju 500cm juga ada penurunan
jeda menjadi 180 detik, semakin longgar dan anak kecil yang sedari tadi berdiri
diseberang jalan kini telah berada tepat didepan kaca jendelaku dengan jidad
dan hidungnya menempel hingga hembusan nafasnya terlihat, tanpa berkutip hanya
menatap ke dalam mataku dan tersenyum. Sontak aku kaget dan hedak memarahinya
–temperanku buruk- tapi sungguh yang keluar dari mulutku bukan lagi ocehan
melainkan suara yang aku sendiripun tidak menyana bahwa aku melakukannya.
Dengan penuh kelembutan aku bertanya: “kenapa dik?” ini bukan sifatku sama
sekali. Ada kepedihan didalam matanya. Kepedihan yang sangat mendalam, yang
hendak ia sembunyikan dengan memasang wajah berseri. Aku mengetahuinya,
sedikit. Seseorang yang tersenyum tanpa ada makna ambigu akan menampakkan semua
gigi secara natural atau hanya tersenyum penuh tanpa menampakkan gigi, sehingga
secara otomatis gerakan matanya juga mengikui, menyipit dan menamppak kerutan
dibagian sudutnya. Sekali lagi, mata anak ini beda. Selain kepedihan ada juga
keteduhan. Keingintahuanku terusik. Ku turunkan lagi kaca jendela untuk melihatnya
semakin jelas. Ditangannya ada kaleng coca-cola yang telah di potong sekitar
1cm dibagian atasnya mungkin untuk mempermudah pengambilan uang yang ia dapat, baju
yang dikenakan walaupun warnanya sudah pudar tapi tetap bersih dan tidak berbau
seperti kebanyakan pengamen lainnya. Badannya kurus tapi tidak dekil. Rupanya
ia memperhatikan agar kebersihan dirinya tetap terjaga. Dan yang paling menarik
perhatianku adalah ia tidak bernyanyi seperti kebanyakan pengamen lainnya. Ia
melantunkan bacaan al-qur’an dengan fasih dengan suara yang sangat merdu dan
penghayatan sempurnah. Seperti ia tahu makna dari setiap ayat yang
dilafalkannya. Tuhan, anak ini..
“PIPP!
PIP-PIP-PIIP!” suara klakson mobil dan motor beruntung dari belakang
menghamburkan lamunanku dan sekejap anak itu sudah pergi. Jalanan didepanku
kosong, tidak ada lagi kendaraan yang tadi berbaris rapi. Reflex aku menginjak
pedal gas dan melaju kencang. Masih ada waktu 660 detik. Belum terlambat jika
kecepatan 60km/jam sekarang kupertahankan. Tuhan menolong dan aku tiba 15 detik
sebelum waktunya, syukurlah.
Aku
lega uangku tetap utuh, tapi kenapa masih ada rasa yang mengganjal?. Astagah
aku lupa memberi anak tadi upah dari hasil kerjanya, aku lupa menanyakan
namanya, aku lupa menanyakan inisialnya. Semoga besok ia masih disana.
Hari
ini aku menginginkan waktu berjalan begitu cepat, tapi kenapa sepertinya begitu
lambat? Apakah karena aku menunggu waktu? Yah menunggu waktu memang pekerjaan
yang paling bosankan. Semakin ditunggu akan semakin lama, seperti halnya ketika
kita mengejar waktu, semakin dikejar akan semakin cepat, tapi aku juga tidak
bisa acuh untuk kondisi sekarang ini. Seumur hidupku aku tidak pernah melihat
anak yang mengamen sepertinya. Memelas, bernyanyi dengan suara cempreng,
keringat yang bercucuran ditambah dengan bau yang tidak sedap, kotor, bahkan
banyak yang tidak memakai pengalas kaki
membiarkan telapak kakinya melepuh dimakan aspal, entah itu hanya modus
untuk mendapatkan simpati dari pengguna jalan lainnya atau apalah, tapi anak
tadi mengambil jalan lain, sesuatu yang berbeda dan aku selalu suka yang
berbeda.
Keesokan harinya aku berangkat 3600 detik dari
waktu biasanya. Pukul 06.00 wita. Aku yang kesehariannya acuh tak acuh,
tiba-tiba menjadi peduli pada anak itu. Sekarang aku sudah ada di jln.
Amizeland, dan memarkir mobilku didepan tempat makan Bakso Senayan. Tidak lama
aku menunggu, anak itu sudah terlihat batang hidungnya, memegang erat kaleng
coca-cola dengan pakaian yang ia kenakan kemarin, sandal swallow orange dan
rambutnya di kepang, menoleh kiri-kanan memperhatikan kendaaran dan hendak
menyebrang tapi sebelum itu terjadi aku lebih dulu memanggilnya, ia menoleh
kepadaku menunjuk diri dan menghampiriku.
“Ada
apa kak? Ada yang bisa Mai bantu?” tanyanya dengan tersenym seperti senyumnya
kemarin. Ternyata namanya Mai, ini sudah terencenakan atau apa? Namanya hampir
sama dengan namaku, Mei.
“Tolong
belikan kakak air mineral ukuran sedang, nutriboost, sari roti dan good time
disana yah? Ini uangnya” tanpa bertanya lagi ia segera pergi menuju mini mart
yang tadi ku tunjukkan. Jalannya begitu cepat, baju yang ia kenakan lebih besar
dari ukuran badannya –sampai lutut- jadilah seperti bendera yang sedang
berkibah.
“Ini
kak, air mineral Rp. 3000 + nutriboost Rp. 5.500 + good time Rp. 8.200 dan sari
roti Rp. 4000 totalnya Rp. 20.700. uang kakak tadi Rp. 50.000 kembaliannya
29.300” sambil menyodorkan kepadaku. Lagi-lagi aku ia membuatku terkejut.
Lengkap dengan rinciannya. Tanpa berfikir lama, perhitungan tadi keluar dari
mulutnya begitu saja, seperti sedang membaca. Anak ini, anak siapa?.
Aku
keluar dari dalam mobil dan berdiri disampingnya. Ada begitu banyak pertanyaan
yang hendak kulontarkan, tapi semuanya tertahan. Sepertinya aku sedang di doti.
“Masih
ada yang bisa Mai bantu kak? Mai harus kerja, adikku sedang menunggu disana”
sambil menjuk ke anak kecil seumuran dengan anak sahabatku, sekitar 5 tahunan
yang sedang jongkok menghadap kekami.
Aku
tidak menjawab. Rasa penasaranku harus berakhir hari ini. Maka aku memegang
tangannya mengambil makanan yang tadi kubeli dan menyebrang jalan menghampiri
adiknya. Bukan kami yang diperhatikan adiknya, tapi makanan yang kubawa. Aku
memberinya, ia segera mengambil, mencium tanganku, dan berterima kasih. Kakaknya
juga berterima kasih dan mencium tanganku seperti yang dilakukan adiknya. Dibaginya
makanan yang ia terima bersama kakaknya, disisakan 2 untuk dibawa pulang.
Tuhan, air mataku hampir jatuh.
“Kamu
tidak sekolah? Ibu kamu mana?” aku mengalihkan perhatian dengan bertanya agar
air mataku tidak berceceran.
“Sejak
kelas 3 SD aku berhenti sekolah dan memutuskan untuk bekerja menambah
penghasilan ibu kak. Ibu juga sekarang lagi kerja, mencuci di rumah tetangga
gajinya tidak akan cukup membiayai untuk tetap bersekolah. Jangankan sekolah
untuk makan 3 kali seharipun sulit kak.”
“Ayah
kamu mana?”
“Sudah
dipanggil Allah” kali ini adiknya yang menyahut.
“Iya
kak, waktu aku kelas 2 SD. Umurku 8 tahun, adikku 2 tahun. Abah meninggal
karena kecelakaan. Mobil yang ia bawa, menabrak pagar rumah orang. Kata dokter
jantungnya kumat saat sedang menyetir. Abah tidak sempat terselamatkan dan
meninggal beberapa menit setelah kami semua anak-anaknya berkumpul” ia
bercerita sambil menahan tangis, nafasnya berat. Aku menoleh ke arah adik dan
adiknya sudah berlinangan air mata dengan tetap memakan makanannya.
“Maafkan
kakak, kakak tidak bermaksud mengorek luka yang susah payah kalian timbun” aku
menyesal telah bertanya. Seketika kecerian wajahnya memudar.
“Bukan
salah kakak. Suka atau tidak ini sudah menjadi takdir kami kak, Allah selalu
memberikan yang terbaik untuk hambanya” sambil tersenyum mengambil makanan yang
diberikan adiknya
“Jadi
sekarang umurmu berapa?”
“Kalau
aku sekolah aku akan duduk dikelas 5 SD. 11 tahun kak”
“Ooh.
Kemarin waktu kamu ngamen di mobil kakak, kamu tidak menyanyi tapi mengaji,
kenapa?” akhirnya aku bertanya ke titik pointnya
“Dulu
waktu abah masih hidup, abah selalu mengajarkan kepada saya cara mengaji yang
benar menghafal al-qur’an karena katanya ada banyak kemuliaan yang akan kita
dapatkan, abah tidak pernah mengajarkan kepada saya cara menyanyi dan menghafal
lagu yang benar karena itu adalah nyanyian syeitan. Jadi saya hanya tahu
mengaji bukan menyanyi kak.” MasyaAllah, aku jadi malu mendengarnya. Sekarang
rasanya aku sedang berguru kepada anak kecil, seorang pengamen yang baru ku
kenal, lewat pesan-pesan dari abahnya.
“kakak,
tidak kerja?” aku tersontak lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 07.52 wita, 480
detik lagi. Aku segera pergi dan berjanji akan menemuinya besok ditempat ini.
Sebelumnya ia menarik tanganku menyalaminya, berterima kasih lagi bersama
adiknya, dan berpesan agar aku berhati-hati dijalan. Aku pergi.
Aku tidak terlambat, sampai dikantor semua
teman yang mulai sibuk bekerja aku sapa, kupanggil namanya, dan mengucupkan
selamat pagi. Mereka memasang wajah bingung, mungkin sedang bertanya “Apa yang
merasuki Mei yang selama ini dingin, kaku tiba-tiba memasang wajah manis dan
bersikap ramah?” aku hanya tersenyum dan karena tersenyum adalah penyakit menular,
maka merekapun ikut tersenyum. Sepanjang hari aku merasakan euforia, mungkin
efek akibat doti anak tadi.
Besok
adalah hari Sabtu, freeday untuk pekerja kantoran. Itu berarti akan ada banyak waktu
untuk berbincang-bincang dengannya, dengan Mai. Entahlah, walaupun usiaku dan
usianya terpaut jauh -10 tahun- aku tetap merasa nyaman. Fikirannya yang
melampaui anak seumurannya, wajahnya yang selalu berseri, lisung pipit yang
dalam dikedua pipinya, adalah bumbu-bumbu penambah rasa nyaman saat aku
berbicara dengannya.
Freeday
pun tiba. Aku membawa 1 bingkisan untuk Mai, 1 parsel untuk keluarganya. Aku
memang takut uangku dicuri waktu, aku jarang mentraktir teman-teman kantor, aku
jarang mengisi amplop undangan dengan uang
yang lebih dari Rp. 100.000 karena bagiku, untuk apa mentraktir, memberi
uang banyak pada mereka padahal mereka berkecukupan, bahkan lebih dari cukup
–kaya-. Aku menabung untuk akhirat kepada mereka yang memang membutuhkan.
Didalam ajaran Islam sangat dianjurkan untuk bersedekah yaitu pemberian sesuatu
kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya selain itu namanya hadiah.
“Assalamu’alaikum
kak, sudah lama?” Mai mengagetkanku yang sedang memperhatikan para anak jalanan
lainnya.
“Wa’alaikum’salam
dek. Adik kamu mana?”
“Ikut
sama kakakku, menjual Koran kak”
“Kamu
anak keberapa dari berapa bersaudara?”
“Anak
ke-3 dari 6 bersaudara. Adikku yang kemarin anak ke-5. Kakakku yang pertama
umurnya 20 tahun, mengajar di salah satu tempat bimbingan belajar gajinya ia
gunakan untuk membantu ibu dan juga untuk membayar biaya kuliahnya, yang ke-2
masih sekolah dikelas 3 SMP, ia masuk siang jadi paginya ia menjual kantong
dipasar untuk membeli buku pelajaran yang diwajibkan dan membayar uang spp,
yang ke-4 kelas 2 SD pulang sekolah menjual Koran juga untuk biaya kebutuhan
sekolahnya, yang terakhir umurnya masih 3 tahun ikut ibu mencuci”
“Kamu
kenapa tidak sekolah? Kan hasil mengamen kamu selain untuk ibumu juga bisa kamu
sisihkan untuk biaya sekolahmu juga?”
“waktu
itu uang kompensasi dari perusahaan tempat ayah bekerja digunakan untuk
membayar ganti rugi dari pagar warga yang ditabrak sisahnya untuk makan dan
untuk biaya sekolah 2 orang saja, sementara waktu itu 3 orang yang bersekolah,
jadi aku memutuskan untuk berhenti dan bekerja. Uang yang sekarang kudapat
sebagian kutabung untuk adikku nanti, agar perihnya kehidupan tidak terlalu
mereka rasakan. Apalagi sekarang BBM naik, semua serba mahal kak.” Mai lega
berhasil mengeluargkan semua beban yang selama ditanggungnya sementara Mei? Aku
sesak mendengarkan semua perih hidupnya. Aku bersyukur masih dapat bersekolah
dari uang pensiun dini ayah dan ibuku yang meninggal dalam insiden kecelakaan
saat aku berumur 16 tahun.
“kakak
turut prihatin mendengar semua cerita Mai. Allah tidak akan menguji setiap hambanya
selain ia mampu Menghadapinya. Allah itu Maha Adil. Mai, kakak ada hadian untuk
kamu, ambil sana didalam mobil” Mai tersenyum memperlihatkan giginya yang
putih, bangkit berjalan menuju mobil, dan membukanya. Ia berteriak
sekencang-kencangnya, berlari kearahku, memelukku erat, mencium tanganku, dan
berterima kasih sebanyak mungkin. Kali ini aku tidak sanggup menahan air
mataku. Aku menangis terharu melihatnya hidup kembali, mendengarnya berucap
Alhamdulillah berkali-kali. Ya Allah, seperti inikah rasanya euforia
berlapis-lapis?
Sungguh,
aku sangat bahagia melihatnya. Dan tanpa berfikir panjang lagi, aku mengambil
keputusan. Ia mengajakku ke rumahnya dan aku mengiyakan. Aku mengantarnya
kerumah memakai mobilku. Ia masih mendekap erat hadiah yang aku berikan.
Disepanjang jalan ia melantunkan bacaan Al-Qur’an sangat fasih dengan suara
merdunya, aku merasakan ketenangan, lebih saat aku memutar lagu favoritku.
Cukup
lama untuk sampai kerumahnya. Melewati pintu gerbang perumahan ter-elit yang
ada dikota ini, semakin kedalam jalanannya semakin sempit dan aku harus
memasuki lorang-lorang yang lebih sempit lagi yang membuatku terpaksa memarkir
mobil dan berjalan kaki sekitar 70meter jauhnya. Demi Mai aku tetap sabar dan
mengikhlaskan kakiku yang sudah berdebu. Dan beberapa kali lagi aku menegaskan
Sabar bukan sifatku sama sekali. Tapi lagi-lagi Hatiku yang menjadi raja.
Ya
Allah, rumahnya Mai sepersekian dari luas rumahku. Rumah panggung dan sudah
hampir roboh kelihatannya, karena terus terguyur hujan dan angin kencang. Untuk
menaiki tangga rumahnya aku harus berfikir ulang. Takut kalau-kalau rumahnya
roboh dan aku tidak sempat terselamatkan.
“tidak
apa-apa kak, silahkan naik. isnyaAllah rumah Mai masih kuat untuk 10 tahun kedepan”
sambil tersenyum ia berkata kepadaku. Kemasygulanku terlalu jelas. Aku malu,
dan segera ke atas.
Aku
masuk kedalam rumahnya. Tidak ada kursi, hanya ada satu kamar, dan kasur
panjang tipis tergulung didepan kamarnya. Hari ini keluarganya lengkap, kecuali
adik kecilnya yang sedang tertidur pulas diatas ayunan. Aku dijamu sebaik
mungkin, rupanya Mai telah bercerita kepada keluarganya tentangku. Cepat sekali
aku akrab dengan mereka padahal sosialisaku buruk. Rasanya keluarganya telah
kukenal beribu tahun silam padahal bertemunya baru sekarang. Ibunya sungguh
tegar, Ia merangkap menjadi seorang Abah memimpin keluarga, membesarkan buah
hatinya sendiri tanpa bantuan orang lain, memberikan kasih sayangnya tanpa
kurang sedikitpun. Ini terlihat dari kedekatannya dengan buah cintanya yang
walaupun usianya sudah sekitar 40tahunan masih dapat mengimbangi cerita
anak-anaknya yang masih ABG. Dengan semua keterbatas ia mebangun heven dalam keluarganya. Sungguh aku
merasa hangat disini, didalam keluarganya.
“Mama,
aku lupa ini ada parsel dari kakak.. Astagfirullah, maafkan aku kak aku lupa
menanyakan nama kakak dari kemarin, nama kakak siapa? ” Astaga ia aku juga lupa
dari kemarin aku tidak pernah memperkenalkan namaku pada Mai.
“Iya,
perkenalkan nama aku Mei, Meirika putri” mereka tertawa, dan berterima kasih
atas untuk parselnya. Tidak lama kemudian kakak Mai yang daritadi hanya diam
dan tersenyum, menciut:
“Itu
namaku kak! Tapi aku dipanggil Meri”
“Dan
itu juga mirip nama panggilanku Mai, Muthmainnah ” Mai masih menyesal, ikut
menyahut.
“Semuanya
sungguh telah diatur oleh Allah Ta’ala. Ibu, Mei mau memohon ijin dari Ibu. Mei
mau membawa Mai tinggal bersama Mei, InsyaAllah Mei yang akan menyekolahkan
Mai, dan menyisahkan sebagian gaji dari Mai untuk membantu keuangan Ibu.
Bagaimana Ibu? Apakah Ibu mengijinkan Mai untuk tinggal bersamaku?. Dirumahku
tidak ada siapa-siapa, aku tinggal sendiri. Sebenarnya orangtuaku juga telah
lama berangkat ke pembaringan yang abadi” kataku yang awalnya bersemangat
menjadi flat. Aku tahu Ibu Mai dan
saudaranya yang walaupun senang Mai akan bersekolah tetap berat hati harus
terpisah dengan darah dagingnya. Segera aku menambahkan,
“Mai
akan berkunjung kesini setiap hari Sabtu, dan kembali Ahad Malam. Mei akan
mengantar dan menjemputnya.” Berat hatinya mulai luluh.
“MasyaAllah,
Barakallafiki. Terima kasih banyak nak, semua bantuannya. Ibu akan selalu
menyebutmu disetiap do’a ibu hanya itu yang bisa ibu berikan. Sungguh betapa
bahagia kedua orang tuamu melihat anak semata wayangnya berhati emas seperti
ini. MasyaAllah, Ibu mengijinkan nak. Jaga adikmu, dan tegurlah kalau Ia nakal”
Ibunya meneteskan air mata. Menangis tersedu memegang tanganku. Seluruh
keluarganya mendekat dan memelukku, menangis mendoakan kebaikan untukku dan Mei
yang akan tinggal bersamaku. Hatiku yang beku mencair, mengalir bersama air
mata mereka, air mata ketulusan, arti mata kebahagian dari keluar yang sakinah
ini. Tiadalah rasa yang paling bahagia,
dari yang sekarang kurasakan. Aku telah menemukan keluargaku yang hilang
bertahun-tahun.
“Mai,
ikuti kata kakakmu, jangan membantah. Dan jadilah anak yang sholehah” pesan Ibu
kepada Mai. Mai pun mengangguk dan memeluk Ibunya. Memeluk keluarga satu dan
persatu dan terakhir memelukku dengan pelukan yang sangat-sangat mendalam. Kami
pun pulang. Aku membawa adikku Mai ke rumah barunya.
“MasyaAllah,
rumah kakak begitu besar. Kakak serius tinggalnya sendiri? Halo apa ada orang
disini? Halo-halo. Ini aku Mai” ia melengkingkan suara dimana-mana. Matanya
berkeliaran sperti sedang menelanjangi seluruh isi rumahku.
“iya
Mai. Inikan rumah orangtua kakak, dulu orangtua kakak sering mengadakan meeting untuk urusan kantoran bersama
teman kerjanya disini. Ayo kakak tunjukkan kamar kamu, ada dilantai atas. Kamar
kita bersebelahan”
Setelah
aku mengajak Mai mengelili rumah, memperlihatkan semua tempat kecuali satu,
tempat rahasia didalam kamarku, aku pun menyuruhnya untuk beristirahat
berhubung besok ia akan memulai kehidupannya yang baru. Sebelum tidur, aku
mendengar Mai mengaji terlebih dahulu dan rupanya ini juga yang akan menjadi
kebiasaan baruku mendengarnya mengaji sebelum tidur.
Hari-hariku
telah berwarna, tidak lagi hambar seperti dulu. Sekarang aku lebih mencintai
rumah daripada kantor yang penuh dengan kesibukan. Aku berhasil menyekolahkan
Mai dan langsung masuk ke kelas 5 tanpa perlu mengulang kembali dari kelas 3
SD. Pulang sekolah Mai akan masuk les privat, dan aku akan menjemputnya
sepulang dari kantor. Malam harinya kugunakan untuk bersenda gurau, bertukar
cerita tentang apa yang terjadi hari ini, kegiatan disekolahnya, dan
sebagaianya, Mai adalah pembicara dan pendengar yang bijak. Disamping itu Mai
adalah anak yang cepat bergaul dan cerdas dengan bekal pesan dan ajaran dari
abahnya dulu Mai berhasil mengejar ketertinggalannya dan meraih peringkat
disekolahnya. Mai tidak pernah merepotkanku Mai cepat dalam belajar. Memasak,
membersihkan rumah, mencuci piring semuanya Mai kerjakan dan aku tidak pernah
sekalipun menyuruhnya untuk melakukan semua itu.
Pernah
suatu malam, Mai tertidur dikamarku dan aku menggendongnya ke kamarnya. Aku
memang tinggal bersama Mai tapi aku tidak pernah masuk ke kamarnya. Ini untuk
pertama kalinya, dengan susah payah aku membuka pintu kamarnya dan MasyaAllah
di depan tempat tidurnya di atas meja belajarnya hadiah yang dulu ku berikan
yang membuatnya menangis bahagia pertama kalinya didalam pelukanku, terpajang indah.
Ia membuatkan kotak berpintu dari kaca disudut meja belajarnya, menghiasinya
dengan rombe warna biru kesukaanku,
memberinya lampu hias disekelilingnya dan dengan tulisan yang mebuat air mataku
jatuh kembali. “Do’a adalah perisai dan tameng yang sesungguhnya. Dan telah
kutitipkan kakak lewat Do’aku kepada Allah. laa
tahzan. Uhibbukunna fillah. My angel, kak Mei”. Didalam kotak itu ada
“Al-Qur’an” yang kuberikan dulu tersimpan rapi dan rupanya yang selama ini
Al-Qur’an pemberiankulah yang pakai untuk mengaji. Subhanallah.
Mungkin
semua orang mengira aku akan rugi menyekolahkannya, karena sama sekali Mai
tidak akan menambah keuanganku dan tidak akan membawakan keuntungan bagiku.
Tidak, itu salah besar. Mai akan menjadi ladang pahalaku untuk akhirat. Aku juga
sungguh belajar banyak darinya. Mai mengajarkan kepadaku arti dari keikhlasan,
kesabaran, dan keteguhan hati dari semua musibah yang dialaminya. Aku
membelikannya banyak buku karena Mai juga adalah pembaca yang setia, dari buku
yang dibaca itulah Mai tahu banyak hal dan menyampaikannya kepadaku karena aku
adalah pembaca yang buruk. Ia mengajariku arti Islam yang sesungguhnya yang
bukan hanya sekedar simbol bahwa kita punya agama. Mai mengajariku cara membaca
Al-Qur’an yang baik sesuai dengan sunnah Rasullah, pentingnya sholat tepat
waktu, cara berhijab yang sempurnah, percaya hanya kepada Allah semata. Mai
adalah seorang muslimah yang kaffah.
Setiap malam aku akan menyimak hafalan Al-Qur’annya. Dan aku juga akan menyetor
hafalanku.
Lembaran
baruku telah terbuka. Kini telah kutemukan kedamaian dan ketenangan dalam
diriku. Begitu nikmat menyandarkan diri hanya kepada Allah semata. Percaya akan
semua takdir yang telah Ia gariskan kepada setiap hamba-Nya. Percaya Allah Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Alhamdulillah ya Allah engkau telah mengirimkan
Hidayah-Mu lewat Mai kepadaku. Hati dan fikiranku telah berdamai. Aku juga akan
menjadi Muslimah yang kaffah Dan aku
siap mengarungi samudera kehidupan yang lebih dalam, menyempurnakan Agamaku
dengan belahan jiwa yang Engkau akan kirimkan kepadaku.
Rabu, 10 Desember 2014
Azyan
TERLAHIR
KEMBALI
Seorang wanita
muslimah yang sholeha, tutur katanya lembut, berjiwa sosial, aktifis, intinya sosok
akhwat sejati yah itulah defenisi sebagian besar orang terhadapnya bahkan
akupun sangat kagum kepadanya. Walaupun ia yang kerap di panggil Laurent si jibab
lebar, karena jilbabnya memang lebih lebar dibanding gadis seumurannya, tapi
itu tidak menjadi penghalang baginya untuk berbaur dan meyatu dengan kami.
Laurent bukan
berasal dari keluarga ustadz yang paham agama dan sebagainya, melainkan dari
keluarga yang awam dan berkepala biru. Semua anggota keluarganya kaya raya,
berpengetahuan luas tapi sayang kurang berilmu. Pengetahuan dan ilmu itu beda,
pengetahuan menyangkut dunia dan ilmu menyangkut dunia dan akhirat. Mungkin
karena ia menyadari kekurangannya itu maka ia pun mulai belajar agama sedikit
demi sedikit yang ia dapat dari paman google secara otodidat. Semua informasi
tentang agama yang ia dapatkan dirangkum dalam sebuah buku kemudian mulai
menerapkannya. Ia mulai belajar mengenali Tuhannya, sholat, menjalankan
sunnah-sunnah rasulullah dan sebagainya. Setelah ia merasa sudah sedikit tahu
tentang agama, artinya sudah dapat membentengi dirinya, ia pun mendakwakannya
pada keluarga sama seperti nabi dulu. Laurent tidak mendapatkan respon yang positif
bahkan kedua orang tuanya sekalipun berkata “ setan apa yang menobatkanmu anak
tengik? ” tetapi laurent berusaha sabar dan tersenyum. Ia terus berdakwa kepada
keluarganya tak peduli ejekan saudara-saudaranya yang menyayat hati. Hingga
akhirya keluarganya mendapat hidayah dan mau mendengar apa yang lauren selama
ini katakan entah mungkin alasannya karena tidak ada efek negative yang di
timbulkan atau apalah, wallahu alam. Setelah itu lauren dan keluarganya yang
memang terkenal sebagai keluarga yang ramah mulai berdakwa kepada tetangganya
dan ke penduduk lampung lainnya. Inilah hidayah Allah keluarga yang awalnya
sangat ambu-radu, selalu hanyut dalam kemewahan dunia kini menjadi sebuah
keluarga da’i yang gemar berdakwa.
Bertahun-tahun kemudian
sudah sekitar 80
masyarakat
di daerah tersebut mau belajar agama dan mendalaminya. Hingga tiba suatu hari
Lauren ingin berhijrah ke tempat lain, ia ingin berdakwa disana dan melanjutkan
sekolahnya, ia pun menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya,
“ummi, Laurent
ingin berhijrah ke tempat lain seligus ingin melanjutkan sekolah Laurent hingga
S3, apakah ummi mengizinkan?”
“dimana tempatnya
Laurent?” katanya umminya dengan muka datar
“suatu tempat yang
penduduknya penuh dengan kebatilan, hanya dihitung jari yang paham agama, nama
tempatnya Broncerter, Ummi?”
“tidak, ummi tidak
mengizikanmu pergi ke tempat itu! Apakah Laurent yakin bisa menjaga diri
Laurent dan menjamin keselamatan laurent?”
“ummi, segala sesuatu
itu sudah diatur oleh Allah, baik buruknya hal yang akan terjadi itu sudah
menjadi takdir Allah, jadi Ummi tak perlu khawatir ada Allah yang menjaga
Laurent kok, insyaAllah laurent akan baik-baik saja” kata Laurent dengan penuh
kelembutan
“ya sudahlah nak,
kalau memang itu keinginanmu silahkan pergi kami merestuimu, tapi ingat jangan
sekali-kali lupa pada Allah. Kapan Laurent akan balik?”
“iya ummi, syukron.
insyaAllah di ramadhan ke 7 setelah tahun ini Laurent akan balik”.
Tanggal
keberangkatan Laurent pun telah tiba, ia akan pergi berhijrah di jalan Allah
dengan berbekal semangat, ilmu dan sedikit harta yang di bawanya. Namun siapa
sangka ini adalah awal bala bencana yang menimpanya.
Tiba di kota
tersebut ia akan menjalani kehidupan barunya yang lebih menantang yang di penuhi
orang-orang asing di sekitarnya, tak ada kerabat yang di kenalinya hanya Allah
saja yang menemaninya. Setelah menyewa apartement yang dekat dari bandara itu,
ia pun beristirahat dan mulai menata baik-baik hal yang akan di lakukan
kedepannya. Belum lagi sempat menutup mata, kebisingan, music yang menggelegar
yang bersumber dari suatu diskotik, bau alcohol telah menyeruak masuk ke dalam
kamarnya. Ternyata tepat di samping apartemennya ada sebuah diskotik besar yang
di huni oleh para penikmat dunia, buka 12 jam dari jam 06 malam hingga jam 06
pagi. Karena tak dapat tidur Laurent pun membuka mushab al-qur’annya dan mulai
membacanya hingga hatinya tenang dan dapat tertidur lelap. Keesokan harinya
Laurent keluar dari apartemennya, bermaksud untuk menanyakan dimana kampus
terdekat yang menyajikan fakultas untuk kedokteran. Ia pun bertemu dengan
seorang wanita yang berpakaian sutra tak cukup, nampaknya ia baru pulang dari
diskotik tersebut
“permisi, bolehkah
aku bertanya?” kata Laurent sopan
“iya” dengan tatapan
sinis wanita tersebut mengiyakan
“terima kasih,
dimana kampus terdekat yang bisa di jangkau dari sini?”
“kenapa? aku lagi
buru-buru lain kali saja jawabannya” jawab wanita tersebut berlalu
“iya, maaf sista”
sebenarnya ada perasaan kecewa dari hati Laurent, awalnya ia berharap ada
sebuah jawaban yang baik darinya karena nampaknya seorang yang berpendidikan
tapi nyatanya ia malah mengacuhkan pertanyaannya. Kemudian Laurent terus
berjalan berharap ada seseorang yang baik hati yang akan menunjukkan jalan ke
fakultas yang di inginkannya. Tak terasa matahari sudah berada di atas
kepalanya sementara ia belum menemukan setidaknya mushallah dulu untuk sholat
dan istirahat. Dia berfikiran untuk balik ke apartementnya dulu tapi terlihat
dikejauhan ada sebuah rumah yang menandakan ada kehidupan, maklum saja di
sepanjang jalan memang banyak rumah yang di laluinya tapi sepertinya sedang
kosong. laurent pun melangkah kembali, ternyata di rumah tersebut ada beberapa
wanita yang mungkin usianya masih 20-an, tetapi sedang asyik bersama para
kekasihnya.
“Hei lihat tuh,
orang katro’ berjalan, hari gini pakai baju gitu isss, sudah ngg’ jaman kale.
Hahaha dasar kudet” kata salah satu dari mereka menggunjing
“Mirip orang tua
dulu saja, sekarang tuh dunia sudah berubah, sudah modern jeng, ngaca’ dong”
dengan tatapan sinis meremehkan salah satu dari mereka menimpali. Tetapi
Laurent tidak mengindahkan kata-katanya, ia terus mendekat dan berkata
“Assalamu’alaikum,
maaf mengganggu waktunya sebentar, boleh saya bertanya?” kata Laurent
memberanikan diri bertanya kepadanya
“Mau nanya’ apa? Di
sini ng’ jual jubah” jawab salah seorang temannya sambil tertawa
Laurent tetap sabar
dan kembali berkata:
“Afwan,
universitars yang punya fakultas kedokteran ada tidak dekat sini ukhty?
Mushollahnya ada ukhty?” kata Laurent lembut
“Haaa? Di sini ngngak
ada nama afwan jeng, ehh kudet. Salah alamat kale! Huuu”
“Yee kudet-kudet
tapi cantik juga yah, hahhaha lembut lagi, wuih” kata seorang pemuda meliriknya
“Ada koq jeng untuk
fakultas kedokteran dari sini lurus saja ke sana, sekitar
meterlah, kalau untuk mushollahnya, sini aku antar
ke rumahku saja, karena ng’ ada mushollah di sini jeng, ada tapi jauh banget,
yuk” kata wanita yang hitam manis tersebut, hanya dia yang menjawabnya dengan
baik, kemudian mengantarkannya ke rumahnya
“Dasar sok-sokkan
loh, sok berhati malaikat”, kata salah satu temannya mengejeknya
“Syukron katsiron
ukhty, mari.”
Singkat cerita
laurent pun kembali ke apartemennya, setelah bersalaman dan pamit untuk pulang.
Di perjalanan, Laurent tak henti-hentinya mengingat Allah, dan takkan pernah
melupakan saudaranya tadi yang telah banyak berjasa.
Setibanya di
apartement laurent langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok,
kemudian beristirahat. Hari-harinya berjalan dengan lancar, semua urusannya
dengan mudah terselesaikan. Tak sulit baginya mendapatkan banyak teman baru,
dan nilai A dalam ujiannya, orangnya yang supel, ramah dan memiliki kecerdasan
di atas rata-rata sangat patut dibanggakan. Berbagai prestasi dapat di raihnya,
namanya begitu terkenal Laurent Aurela Arika satu-satunya perempuan berjilbab
lebar yang sangat cantik dan menawan dalam fakultasnya. Akan tetapi keimanannya
mulai menipis, tak sering lagi mengingat Allah. Laurent hampir saja lupa akan
tujuan untamanya untuk berdakwah, ia hampir saja hanyut dalam duniawinya, kalau
bukan karena Allah yang mengingatkan Laurent lewat mimpinya akan pesan-pesan
ibunya sebelum berangkat mungkin ia akan seperti temannya yang sekarang ini.
Setiap malam banyak temannya yang berdatangan keapartemennya untuk menginap
setelah pulang dari diskotik, tak jarang Laurent merasa risih terhadap bau alkohol
dan asap rokok, tapi ia tak enak hati menyuruhnya pulang. Hingga..
“Werra, gimana sih
rasanya ? itu yang biasa kau minum hingga mabuk?” Tanya Laurent pensaran.
Sebenarnya Laurent sudah hampir terlena akan apa yang ada dihadapannya hanya
teman-temannya mengingatkannya walaupun hanya sebagian kecil.
“Ini tuh namanya
bir, awalnya orang yang meminum akan mengatakan kecutlah, nga’ enaklah, apalah
tapi lama kelamaan akan kecanduan juga. Tapi kalau Laurent mau coba jangan yah,
nga’ baik sih tapi enak hehe”
“Sudah cobakan saja
werra siapa tau Laurent mau mencoba, maklumkan jilbabers. Hehe piss”
“Aku penasaran
pengen coba, coba dikit deh, bagi dong lilu ” kata Laurent sudah mulai goyah
akan pendiriannya
“Jangan rent” kata
werra mencoba melarang
“Sudahlah kamu saja
kan minum, kasih saja biar Laurent tau rasanya”
Laurent pun
mencobanya, setelah mencobanya sedikit ia hampir saja muntah tidak tahan dengan
baunya, tapi setelah itu ia minta lagi dan lagi. Malam itu Laurent menghabiskan
2 botol wine. Malam-malam berikutnya pun demikian selalu saja mabuk, mulai
belajar merokok, ke diskotik bahkan sudah melepaskan jilbabnya dan tak lagi
mengingat Allah. Sejak malam kemarin Laurent sudah hanyut dalam kesenangan yang
ia peroleh, pesan-pesan ibunya sudah ia abaikan. Bahkan ibunya menelpon
berkali-kali ia tidak mengangkatnya, tidak peduli apakah itu penting atau tidak.
Berpakaian seperti layaknya teman-teman lainnya hanya saja masih agak tertutup
sedikit. Teman-teman di kelasnya berkomentar
“Laurent kamu
kenapa? Mana jilbab kamu yang selalu menutupi keindahan tubuhmu? Mana sikap
tawadu’ kamu? Kenapa kamu seperti ini?” kata wira prihatin yang merupakan teman
dekat laurrent.
“Ada di rumah ke
tinggalan tadi” jawab Laurent seadanya.
Sikap laurent yang
sekarang berbalik 180
dari yang
dulu tak ada lagi sikap muslimahnya, tak ada lagi rasa malunya, memamerkan
auratnya yang memanjakan mata lelaki yang melihatnya.
Sekarang sudah
memasuki ramadhan yang ke 7, tapi Laurent lupa akan janjinya kepada umminya
bahwa akan pulang saat ramadhan ke 7 mendatang, bukan saja janjinya ia pun lupa
akan kedua orang tuanya, tak pernah lagi memberi kabar dan menghubungi orang
tuanya. Barang-barang perbekalannya hampir habis di jualnya demi mendapatkan
obat-obatan terlarang. Dan malam itupun
tiba.
Dua malam terakhir
sebelum idhul fitri, teman-teman terdekat laurent berencana untuk berlebaran
bersama di daerah Sumigo, akan tetapi Laurent tiba-tiba menghilang,
teman-temannya tak tau dimana Laurent berada, di hubungi berkali-berkali tetapi
tidak ada jawaban. Teman-temannya mulai cemas akan keadaan Laurent, tak
biasanya laurent begini. Semuanya berpencar mencari Laurent. Di sisi lain,
laurent telah di sekap di daerah terpencil oleh sekelompok lelaki yang tidak di
kenalinya. Laurent pun sadar, ketika sadar ia tak tau di mana dia berada
sekarang. Tak ada orang, hanya takbir ramadhan idul fitri yang menggema di
menara-menara mesjid. “Allaahu akbar, allahuakbar, allahu akbar,
laailaaha illallaahu allahuakbar, allahu akbar walillaa ilham” Laurent pun
menangis sejadi-jadinya bukan karena ia di sekap melainkan akan dosa-dosanya
yang selama ini ia perbuat ia telah melupakan Allah, ia telah jauh dari Allah
tidak lagi menjalankan ibadah-ibadah yang kemarin rutin di lakukannya, tidak
pernah lagi lagi berpuasa selama 4 ramadhan terakhir. Menyesal, berlinangan air
mata memohon ampun pada sang khalik akan dosa-dosanya selama ini.
“Hah! Apa yang kau
tangisi tak akan ada yang menolongmu dasar bedebah!” kata salah seorang
diantaranya yang bertubuh paling kekar
“Malam ini kamu
akan menjadi santapan kami. bodymu boleh juga yah, haha” kata yang lain
menimpali
Laurent hanya diam,
sedikitpun ia tak gentar akan ancaman para lelaki itu. Kepercayaannya akan
kuasa Allah telah membuatnya kuat dan penghayatannya terhadap alunan takbir
ramadhan idhul fitri itu telah menutup telinganya untuk mendengar kata-kata
kotornya. Yang ada di fikirannya hanya bagaimana caranya bisa keluar dan
bersuci kemudian menemui rumah Allah itu.
“Hei jangan
melamun! Atau ku pecahkan kepalamu. Siapa namamu lonte?”
Kata-katanya yang
begitu keras membangunkan Laurent dari lamunannya.
“Laurent pak”
“nama yang indah
seindah tuannya. Cari makan dulu yuk lapar nih, sekalian juga buat dia”
Para lelaki itupun
pergi mncari makan. Sementara Laurent berusaha untuk melepaskan diri, ia
berusaha mencari cara dan mendapati pecahan beling kemudian memotong tali
pengikat tangannya. Ia pun membuka handphonenya menghubungi teman-temannya
untung handphoonenya mempunyai software LJS jadi sekarang ia tau dimana laurent
berada. Setelah ia pun membaca sms yang mauk dalah satu dari kedua orang tuanya
“assalamu’alaykum
Laurent sayang, bagaimana kabarnya sekarang nak? Sekarang sudah memasuki tahun
ke 7 ramadhan, sebagaimana janjimu, waktunya kamu pulang nak. Sungguh ummi
sangat mengkhawatikanmu. 2 bulan lalu kami tertimpa musibah terjadi gempa dahsyat.
Alhamdulillah kami semua selamat. Pada bulan berikutnya abamu jatuh sakit, ia
terserang penyakit leukimia, setelah sebulan sakit ia mengigau-ngigau namamu,
ia begitu rindu padamu nak,ia berpesan jika Laurent pulang nanti ia ingin
menjadi orang yang pertama memelukmu dan melaksanakan haji ke baitullah
bersamamu nak, tetapi tak selang beberapa hari ia pun di panggil oleh sang maha
Agung, tak banyak yang bisa kami perbuat kami pun menghubungimu tetapi tidak
Laurent angkat. Cepat pulang nak kami sangat merindukanmu, semoga Allah selalu
melindugimu. Aamiin. Ummi”
Penyesalan tiada
tara menyelimuti hati lautrent, ia pun menangis dan terus menangis sambil
menyebut nama ummi dan abanya. Sebelum para lelaki itu datang, teman-temannya
sudah datang menyelamatkannya, dan kembali ke apartement. Di perjalanan ia
hanya diam seribu kata, teman-temannya bingung namun bahagia melihat Laurent
kembali. Tiba di apartement, Laurent langsung mensucikan diri, kemudian sholat
wajib, dan sholat taubat. Takbir ramadhan masih menggema, malam itu ia tidak
tidur, terus menjalankan ibadah kepada Allah. Memohon taubat kepadaNya,
berpuasa keesokan harinya dan kembali ke kampung halamannya. Tapi sebelumnya ia
berpesan kepada teman-temannya:
“Kejadian
kemarin yang menimpaku sungguh karena
aku telah lalai kepadaNya, aku telah
sempat melupakannya. Kuasa Allah, Alhamdulillah beruntung aku masih berada
dalam lindungannya,
disadarkannya
hingga detik terakhir bulan suci bisa ku raih, di sebabkan Allah melalui takbir
dalam ramadhan itu sebelumnya aku telah terlena dengan kemewahan dunia yang akan menggelapkanku, kemudian aku sadar betapa
besar keangungan Allah, bentuk tubuh dan panorama yang indah hanya salah satu
dari
perwujudannya. Sejuknya iman bisa ku raih
hanya dengan dekat kepadanya.”
Ketika Hidayah Datang Menghampiri
AKU YANG BARU
Ini adalah kisahku beberapa bulan yang lalu, dimana pada
waktu itu aku benar-benar awam akan ilmu agama, aku memang seorang muslim, tapi
perilakuku banyak yang menyimpang dari ajaran islam. Malam itu adalah saksi
pertaubatanku, hidayah dari sang khalik datang melalui sahabatku Zahira.
“Assalamu’alaikum,
Zahra”
“Waalaikumsalam, iya ra masuk aja” teriakku
dari kamar. Itu suara Zahira, sahabatku yang tak pernah lelah mengajakku sholat
tarawih di mesjid meski beberapa kali aku tolak. Sudah jadi kebiasaannya setiap
mau ke mesjid pasti mampir ngajak aku dulu, maklum jarak rumahku dengan rumahnya lumayan dekat,
hanya terpisah beberapa rumah saja. Banyak orang beranggapan aku dengan Zahira bagai
kanan dan kiri, dari segi fisik sangat nampak bedanya. Zahira seorang akhwat,
seorang muslimah, tutur katanya lembut sementara aku seorang rock and roll,
karena perawakanku sama sekali tak menunjukkan sosok seorang perempuan yang
feminim dan sebagainya, aku tomboy gaya bicaraku pun kasar tapi masih sopan dan
rendah hati, bukannya narsis tapi kenyataan, para teman dan tetangga sering memujiku,
kadang kala saat dipuji aku sering berbesar kepala, Zahira pun selalu mengingatkanku
“pujian itu bagian dari suatu bencana” entah apa maksud dari kata Zahira itu.
“bumm…” Zahira
memukul pundakku mengagetkanku
“Aduh, apaan sih ra bikin kaget aja, untung
jantungku nggak copot. Kalau iya, sudah dalam jeruji kamu” kataku sambil
tertawa
“Abisnya kamu sih ngelamun, ayo mikirin
apa coba?”
“Mikirin dia. hahaha”
“Ayo deh ambil air wudhu sana, sudah
mau iqamah. Entar kita masbuq lagi!”
“Kan bisa sholat disini iyakan-iyakan?
Tunggu yah”. kataku cengar-cengir sambil berlalu. Ia tak pernah kesal padaku
walau sering kali aku mengumbar emosinya, ia juga tak pernah malu berteman
dengan aku yang punya geng preman dan brandalan, hanya saja nasehatnya padaku
tak pernah lepas. Bosan juga sih di nasehatin melulu, andainya saja teman yang
lain, sudah aku sikat mulutnya. Mungkin aku tak berani menyakitinya karena dia satu-satunya
sahabatku yang paling pengertian dan yang paling betah berteman denganku sejak
umur 13 tahun hingga sekarang 17 tahun dan semoga saja selamanya.
Setibanya di mesjid aku dan Zahira
langsung sholat ikut imam, ternyata sudah telat satu rakaat, kelamaan tadi di
rumahku jadinya masbuq deh. “pasti besok zahira datangnya lebih cepat lagi, nggak bisa nonton dulu,
huh” gerutuku dalam sholat. Selesai sholat dengar ceramah dulu sebelum
tarawihan. Aku paling malas dengar ceramah belum sempat kabur Zahira sudah
mergoki aku, nasib-nasib
“Mau kemana ra?”
“Mau ke toilet bentar”
“Sini aku antar”
“Ngg’ perlu ra, aku bisa sendiri koq”
“Bilang aja mau kabur, kebiasaan buruk
dengar dululah Zahra temanya bagus koq, pembawaan ceramahnya juga keren”
“Tapi ra” belum sempat ngomong Zahira
sudah tahu ngelesku
“Dengarlah ra, pencerahan seperti ini
tuh sangat bermanfaat kapan lagi kalau bukan bulan ramadhan?”
“Iya-iya Zahira, nih aku dengar”
“Jangan mayun, ikhas karena Allah Zahra
yang manis ” kata Zahirah sambil tersenyum padaku, dia pasti tau kalau aku lagi
kesal.
Malam-malam taraweh berikutnya pun
sama, Zahira selalu saja melarangku keluar, hingga aku pun terbiasa dan mulai
ikhlas dari keterpaksaan, duduk, diam, dengar ceramah tanpa peduli makna
darinya “ yang penting kan dengar ”.
Ceramah pun berakhir, tapi entah kenapa
perkataan ustadz yang ceramah tadi terus terngiang ditelingaku. Sambil berbisik
dalam hati aku bertanya “betulkah perkataanya? Kalau memang betul apa aku tidak
akan mencium bau surga? rasanya semua perkataannya tertuju padaku, Wadduh mati
aku!” rasa penasaranku pun muncul hingga aku bertanya ke Zahira yang lebih paham
agama saat pulang dari mesjid
“Ra, tadi aku dengar ustadz Dg. Massese
bilang gini “sesungguhnya sebilang ahli neraka adalah perempuan-perempuan
yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain
untuk melakukan maksiat, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium
baunya” (HR. Bukhari dan Muslim) apa sih maksudnya? Berpakaian tapi
telanjang itu yang mana? Tanyaku mendesak
“Maksudnya berpakaian tapi telanjang
itu yang hanya membungkus auratnya bukannya menutup, defenisi membungkus dan
menutup itu beda, membungkus masih terlihat bentuknya sementara menutup tidak
sama sekali. Seperti menampakkan lekuk tubuhnya hingga semuanya tercetak dengan
jelas, misalnya berpakaian ketat, jeans dan sebagainya. Coba lihat perempuan
yang memakai baju merah diseberang sana, bagaimana pendapat zahra tentang
perempuan itu? kita bisa tau kan, besar betisnya, pahanya, bokongnya, lingkar
dada, dan pokoknya tanpa melepaskan pakaiannyapun kita bisa tau ukurannya.
Kalau tentang masuk syurga wallahua’lam karena itu adalah hadist, perkataan
Rasullah yang shohi jadi kebenarannya bisa dipercaya”.
“seperti pakaian aku ra?” tanyanku
kemudian
“kurang lebih seperti itu”
“tapi pakaian kayak kamu norak, sudah
nggak jaman! Pakaian yang
ngetren tuh kayak sekarang ini, Zahira!” sangkalku
“Begitulah cara orang-orang yang ingin memboikot islam,
mereka mengatur siasat bagaimana cara menghilangkan moral orang-orang Islam, diantaranya
dengan menduniakan budayanya, misalnya saja
dari segi pakaian yang kayak gini, hehe (sambil memegang lengan bajunya) dan parahnya sebagian besar orang
Islam tertipu!”
Aku merenungi pernyataan Zahira,
ternyata memang betul. Bodohnya aku ya Allah!
“maaf ra, bukan maksud aku…”
“aku nggak marah kok Zahira, maaf yah
mungkin tadi nada bicaraku agak keras, maaf yah Zahra” kata Zahira tahu maksud
aku
“Tidak apa-apa, makasih yah ra, aku
baru sadar akan realita sekarang” kataku sambil memeluk Zahira
“Kamu mau yah ra’ pakai jilbab dan
berhijab menutup auratmu? aku nggak mau kamu terus-terusan berdosa gara-gara
mengumbar yang wajib kamu tutup, dalam hadist nabi hukumannya diakhirat begini
“wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya
hingga mendidih otaknya dalam neraka adalan mereka yang tidak mau menutup
rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya” (HR. Bukhari dan
Muslim)
“Haaa?
Astagfirullah. Tapi aku nggak punya pakaian muslimah?”
“Entar pakai pakaianku saja ra, ada kok
untuk kamu lagian kita kan seukuran” kata Zahira sambil menahan tawa
“Iya ra, InsyaAllah bantu aku yah? Tapi
aku masih malu teman-temanku pasti menertawaiku dan menjadikanku bahan
ejekannya”
“Ngapain mesti malu ra? Harusnya malah
bangga bercahaya di mata Allah diantara semuanya. Zahra pilih mana dibenci
Allah atau dibenci teman?”
“Dibenci teman, tapi apa nggak gerah
pakai jilbab? Apalagi jilbab kayak gini?” kataku sambil menunjuk jilbab Zahira
yang lebar
“InsyaAllah nggak Zahra, kalau sudah
terbiasa malahan dingin. Hikmahnya juga menutup aurat kita akan terhindar dari
pelecehan-pelecehan seksual yang marak terjadi”
“InsyaAllah akan ku coba, tapi
bagaimana dengan hari-hari kemarin? Apa yang harus kukatakan jika teman-temanku
yang lain mengejekku?”
“Tidak ada dosa bagi yang tidak tahu
ra, jawab saja ini perintah Allah. Islam itu mudah sayang. Ehh kalau Zahra mau
langsung pakai jilbab kayak aku J?” kata Zahira
semangat
“Makasih Zahira, tapi aku mau coba dulu
jilbab yang biasa saja yah, bolehkan?”
“Iya-iya Zahra yang manis. Alhamdulillah
engkau telah mendapat hidayah dari Allah”
“Alhamdulillah, mampir dulu Zahira?”
ternyata aku sudah sampai depan rumahku
“Iya, ra makasih. Lain kali saja J”
Aku telah berjanji akan menutup aurat,
mau tidak mau harus kulakukan walau masih sedikit bimbang, tapi kalau ingat
hadist itu dan apa yang dikatakan Zahira kepadaku rasanya aku kuat untuk
melangkah. Zahira terus mengingatkanku lewat sms, jangan sampai aku berubah fikiran.
Senang rasanya malam ini dan akupun tertidur lelap. Saat sahur, tiba-tiba
Zahira datang dan ternyata dia membawakanku pakaian muslimah yang ia janjikan.
Keesokan harinya aku nggak keluar
rumah, malu banget rasanya orang-orang pasti beranggapan “setan apa yang
menyambarnya? Nelan ludah sendiri deh” tak tahu mau ditaru dimana mukaku, aku
dulu nggak suka liat orang yang berjilbab, mati-matian aku menolaknya jika di
tawari, tapi sekarang? Aku pun mengeluh ke Zahira tapi ia hanya menjawab
“Zahra, itu hanya fikiranmu doang yang
berlebihan, hasutan syetan supaya kamu nggak jadi berhijab. Berpegang teguhnya
kepada Allah! palingan masyarakat yang melihatmu hanya berkata “Alhamdulillah
Zahra berubah” tenang saja Allah ada kok, nggak usah cemas ra. Dalam hadist pun
tertulis “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu,
dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mreka mengulurkan jilbabnya
keseluruhan tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di
kenal, karena itu mereka tida diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha
penyayang” (QS. Al-ahzab : 59).
“Sudah jelaskan? Jadi tak ada alasan
lagi Zahra cemas yahJ”
Aku tambah semangat berhijab dengan
jawaban Zahira yang terus mendukungku. Sering kali lupa keluar rumah tanpa
mengenakan jilbab tapi Alhamdulillah tetangga dan teman yang melihat langsung
mengingatkanku, hingga aku pun malu pada diriku sendiri. Rasanya sungguh mantap
ibadah ramadhanku bulan ini. Dengan berhijab, mengenakan jilbab pula aku bisa lebih
mengontrol diri dari nafsuku karena secara spontan aku akan sadar “aku telah
berhijrah, nggak boleh lagi seperti dulu” apalagi aku tahu dalam pergaulan ada
yang namanya muhrim dan bukan muhrim, nah yang bukan muhrim ini hukumnya haram
untuk bersentuhan dalam hadist nabi “sesungguhnya kepala yang ditusuk besi itu
lebih baik dari pada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal
baginya” (HR. At-Thabrani dan Baihaqi). Aku baru sadar, akan semua hal yang
dianggap biasa, sudah lazim, namun dosanya luar biasa. Kedepannya,
sebagaimanapun perihnya hidup, aku akan berusaha untuk tetap istiqamah dan
menjadi muslimah yang kaffah. Welcome my new self.
Langganan:
Postingan (Atom)