GOOD BYE MASYGUL, WELCOME EUFORIA
“Ayolah
hati bersabarlah, berhenti menggerutu, nikmatilah kemacetan ini”
“Bagaimana
mungkin aku akan bersabar. 2.100 detik dari sekarang, aku harus tiba disana.
Terlambat satu detik saja gajiku akan dipotong. Dan sekarang untuk pertama
kalinya, aku terjebak macet separah ini, melaju 100cm, berhenti 240 detik,
melaju lagi, berhenti lagi. Sompral. Tuhan uangku akan dicuri oleh waktu.
Tolonglah, singkirkan semua kendaraan yang ada di depanku ini. Ah- ini semua
salah mereka. Egois”
“Kamu
juga egois. Tidak sepenuhnya salah mereka. Mengapa harus memakai mobil padahal
kamu sendiri. Boros waktu dan tempat. Seharusnya untuk ukuran mobil kamu, dapat
menghemat 2-3 kendaraan beroda dua. Jadi dapat meminimalisir penyebab kemacetan
selain kecelakaan dan mobil-mobil besar pengangkut barang”
Debat
sengit antara hati dan fikiranku terus memanas. Tidak ada yang mau dikalah dan
mengalah, tapi walaupun demikian anggota tubuhku yang lain tetap pro terhadap
hatiku. Karena sampai detik ini aku masih menyakini hati nurani tidak pernah
salah, yang salah adalan adalah ketika saraf implus menyampaikan pesan dari
hati ke otak, ada bumbu-bumbu godaan syeitan laknatullah yang turut andil,
sehingga apabila benteng pertahanan tidak cukup kuat maka pesan tersebut akan
tercemar, dan yang terbaca di otak adalah hasil rekayasa syeitan.
Kali
ini fikiran mengalah karena bagimanapun tidak ada celah untuk menang ,maka
jadilah yang memegang kendali adalah hati. Untuk sedikit menenangkan fikiran
kuputar lagu favoritku sepanjang jalan
kenangan hingga tidak terasa mobilku telah melaju 500cm juga ada penurunan
jeda menjadi 180 detik, semakin longgar dan anak kecil yang sedari tadi berdiri
diseberang jalan kini telah berada tepat didepan kaca jendelaku dengan jidad
dan hidungnya menempel hingga hembusan nafasnya terlihat, tanpa berkutip hanya
menatap ke dalam mataku dan tersenyum. Sontak aku kaget dan hedak memarahinya
–temperanku buruk- tapi sungguh yang keluar dari mulutku bukan lagi ocehan
melainkan suara yang aku sendiripun tidak menyana bahwa aku melakukannya.
Dengan penuh kelembutan aku bertanya: “kenapa dik?” ini bukan sifatku sama
sekali. Ada kepedihan didalam matanya. Kepedihan yang sangat mendalam, yang
hendak ia sembunyikan dengan memasang wajah berseri. Aku mengetahuinya,
sedikit. Seseorang yang tersenyum tanpa ada makna ambigu akan menampakkan semua
gigi secara natural atau hanya tersenyum penuh tanpa menampakkan gigi, sehingga
secara otomatis gerakan matanya juga mengikui, menyipit dan menamppak kerutan
dibagian sudutnya. Sekali lagi, mata anak ini beda. Selain kepedihan ada juga
keteduhan. Keingintahuanku terusik. Ku turunkan lagi kaca jendela untuk melihatnya
semakin jelas. Ditangannya ada kaleng coca-cola yang telah di potong sekitar
1cm dibagian atasnya mungkin untuk mempermudah pengambilan uang yang ia dapat, baju
yang dikenakan walaupun warnanya sudah pudar tapi tetap bersih dan tidak berbau
seperti kebanyakan pengamen lainnya. Badannya kurus tapi tidak dekil. Rupanya
ia memperhatikan agar kebersihan dirinya tetap terjaga. Dan yang paling menarik
perhatianku adalah ia tidak bernyanyi seperti kebanyakan pengamen lainnya. Ia
melantunkan bacaan al-qur’an dengan fasih dengan suara yang sangat merdu dan
penghayatan sempurnah. Seperti ia tahu makna dari setiap ayat yang
dilafalkannya. Tuhan, anak ini..
“PIPP!
PIP-PIP-PIIP!” suara klakson mobil dan motor beruntung dari belakang
menghamburkan lamunanku dan sekejap anak itu sudah pergi. Jalanan didepanku
kosong, tidak ada lagi kendaraan yang tadi berbaris rapi. Reflex aku menginjak
pedal gas dan melaju kencang. Masih ada waktu 660 detik. Belum terlambat jika
kecepatan 60km/jam sekarang kupertahankan. Tuhan menolong dan aku tiba 15 detik
sebelum waktunya, syukurlah.
Aku
lega uangku tetap utuh, tapi kenapa masih ada rasa yang mengganjal?. Astagah
aku lupa memberi anak tadi upah dari hasil kerjanya, aku lupa menanyakan
namanya, aku lupa menanyakan inisialnya. Semoga besok ia masih disana.
Hari
ini aku menginginkan waktu berjalan begitu cepat, tapi kenapa sepertinya begitu
lambat? Apakah karena aku menunggu waktu? Yah menunggu waktu memang pekerjaan
yang paling bosankan. Semakin ditunggu akan semakin lama, seperti halnya ketika
kita mengejar waktu, semakin dikejar akan semakin cepat, tapi aku juga tidak
bisa acuh untuk kondisi sekarang ini. Seumur hidupku aku tidak pernah melihat
anak yang mengamen sepertinya. Memelas, bernyanyi dengan suara cempreng,
keringat yang bercucuran ditambah dengan bau yang tidak sedap, kotor, bahkan
banyak yang tidak memakai pengalas kaki
membiarkan telapak kakinya melepuh dimakan aspal, entah itu hanya modus
untuk mendapatkan simpati dari pengguna jalan lainnya atau apalah, tapi anak
tadi mengambil jalan lain, sesuatu yang berbeda dan aku selalu suka yang
berbeda.
Keesokan harinya aku berangkat 3600 detik dari
waktu biasanya. Pukul 06.00 wita. Aku yang kesehariannya acuh tak acuh,
tiba-tiba menjadi peduli pada anak itu. Sekarang aku sudah ada di jln.
Amizeland, dan memarkir mobilku didepan tempat makan Bakso Senayan. Tidak lama
aku menunggu, anak itu sudah terlihat batang hidungnya, memegang erat kaleng
coca-cola dengan pakaian yang ia kenakan kemarin, sandal swallow orange dan
rambutnya di kepang, menoleh kiri-kanan memperhatikan kendaaran dan hendak
menyebrang tapi sebelum itu terjadi aku lebih dulu memanggilnya, ia menoleh
kepadaku menunjuk diri dan menghampiriku.
“Ada
apa kak? Ada yang bisa Mai bantu?” tanyanya dengan tersenym seperti senyumnya
kemarin. Ternyata namanya Mai, ini sudah terencenakan atau apa? Namanya hampir
sama dengan namaku, Mei.
“Tolong
belikan kakak air mineral ukuran sedang, nutriboost, sari roti dan good time
disana yah? Ini uangnya” tanpa bertanya lagi ia segera pergi menuju mini mart
yang tadi ku tunjukkan. Jalannya begitu cepat, baju yang ia kenakan lebih besar
dari ukuran badannya –sampai lutut- jadilah seperti bendera yang sedang
berkibah.
“Ini
kak, air mineral Rp. 3000 + nutriboost Rp. 5.500 + good time Rp. 8.200 dan sari
roti Rp. 4000 totalnya Rp. 20.700. uang kakak tadi Rp. 50.000 kembaliannya
29.300” sambil menyodorkan kepadaku. Lagi-lagi aku ia membuatku terkejut.
Lengkap dengan rinciannya. Tanpa berfikir lama, perhitungan tadi keluar dari
mulutnya begitu saja, seperti sedang membaca. Anak ini, anak siapa?.
Aku
keluar dari dalam mobil dan berdiri disampingnya. Ada begitu banyak pertanyaan
yang hendak kulontarkan, tapi semuanya tertahan. Sepertinya aku sedang di doti.
“Masih
ada yang bisa Mai bantu kak? Mai harus kerja, adikku sedang menunggu disana”
sambil menjuk ke anak kecil seumuran dengan anak sahabatku, sekitar 5 tahunan
yang sedang jongkok menghadap kekami.
Aku
tidak menjawab. Rasa penasaranku harus berakhir hari ini. Maka aku memegang
tangannya mengambil makanan yang tadi kubeli dan menyebrang jalan menghampiri
adiknya. Bukan kami yang diperhatikan adiknya, tapi makanan yang kubawa. Aku
memberinya, ia segera mengambil, mencium tanganku, dan berterima kasih. Kakaknya
juga berterima kasih dan mencium tanganku seperti yang dilakukan adiknya. Dibaginya
makanan yang ia terima bersama kakaknya, disisakan 2 untuk dibawa pulang.
Tuhan, air mataku hampir jatuh.
“Kamu
tidak sekolah? Ibu kamu mana?” aku mengalihkan perhatian dengan bertanya agar
air mataku tidak berceceran.
“Sejak
kelas 3 SD aku berhenti sekolah dan memutuskan untuk bekerja menambah
penghasilan ibu kak. Ibu juga sekarang lagi kerja, mencuci di rumah tetangga
gajinya tidak akan cukup membiayai untuk tetap bersekolah. Jangankan sekolah
untuk makan 3 kali seharipun sulit kak.”
“Ayah
kamu mana?”
“Sudah
dipanggil Allah” kali ini adiknya yang menyahut.
“Iya
kak, waktu aku kelas 2 SD. Umurku 8 tahun, adikku 2 tahun. Abah meninggal
karena kecelakaan. Mobil yang ia bawa, menabrak pagar rumah orang. Kata dokter
jantungnya kumat saat sedang menyetir. Abah tidak sempat terselamatkan dan
meninggal beberapa menit setelah kami semua anak-anaknya berkumpul” ia
bercerita sambil menahan tangis, nafasnya berat. Aku menoleh ke arah adik dan
adiknya sudah berlinangan air mata dengan tetap memakan makanannya.
“Maafkan
kakak, kakak tidak bermaksud mengorek luka yang susah payah kalian timbun” aku
menyesal telah bertanya. Seketika kecerian wajahnya memudar.
“Bukan
salah kakak. Suka atau tidak ini sudah menjadi takdir kami kak, Allah selalu
memberikan yang terbaik untuk hambanya” sambil tersenyum mengambil makanan yang
diberikan adiknya
“Jadi
sekarang umurmu berapa?”
“Kalau
aku sekolah aku akan duduk dikelas 5 SD. 11 tahun kak”
“Ooh.
Kemarin waktu kamu ngamen di mobil kakak, kamu tidak menyanyi tapi mengaji,
kenapa?” akhirnya aku bertanya ke titik pointnya
“Dulu
waktu abah masih hidup, abah selalu mengajarkan kepada saya cara mengaji yang
benar menghafal al-qur’an karena katanya ada banyak kemuliaan yang akan kita
dapatkan, abah tidak pernah mengajarkan kepada saya cara menyanyi dan menghafal
lagu yang benar karena itu adalah nyanyian syeitan. Jadi saya hanya tahu
mengaji bukan menyanyi kak.” MasyaAllah, aku jadi malu mendengarnya. Sekarang
rasanya aku sedang berguru kepada anak kecil, seorang pengamen yang baru ku
kenal, lewat pesan-pesan dari abahnya.
“kakak,
tidak kerja?” aku tersontak lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 07.52 wita, 480
detik lagi. Aku segera pergi dan berjanji akan menemuinya besok ditempat ini.
Sebelumnya ia menarik tanganku menyalaminya, berterima kasih lagi bersama
adiknya, dan berpesan agar aku berhati-hati dijalan. Aku pergi.
Aku tidak terlambat, sampai dikantor semua
teman yang mulai sibuk bekerja aku sapa, kupanggil namanya, dan mengucupkan
selamat pagi. Mereka memasang wajah bingung, mungkin sedang bertanya “Apa yang
merasuki Mei yang selama ini dingin, kaku tiba-tiba memasang wajah manis dan
bersikap ramah?” aku hanya tersenyum dan karena tersenyum adalah penyakit menular,
maka merekapun ikut tersenyum. Sepanjang hari aku merasakan euforia, mungkin
efek akibat doti anak tadi.
Besok
adalah hari Sabtu, freeday untuk pekerja kantoran. Itu berarti akan ada banyak waktu
untuk berbincang-bincang dengannya, dengan Mai. Entahlah, walaupun usiaku dan
usianya terpaut jauh -10 tahun- aku tetap merasa nyaman. Fikirannya yang
melampaui anak seumurannya, wajahnya yang selalu berseri, lisung pipit yang
dalam dikedua pipinya, adalah bumbu-bumbu penambah rasa nyaman saat aku
berbicara dengannya.
Freeday
pun tiba. Aku membawa 1 bingkisan untuk Mai, 1 parsel untuk keluarganya. Aku
memang takut uangku dicuri waktu, aku jarang mentraktir teman-teman kantor, aku
jarang mengisi amplop undangan dengan uang
yang lebih dari Rp. 100.000 karena bagiku, untuk apa mentraktir, memberi
uang banyak pada mereka padahal mereka berkecukupan, bahkan lebih dari cukup
–kaya-. Aku menabung untuk akhirat kepada mereka yang memang membutuhkan.
Didalam ajaran Islam sangat dianjurkan untuk bersedekah yaitu pemberian sesuatu
kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya selain itu namanya hadiah.
“Assalamu’alaikum
kak, sudah lama?” Mai mengagetkanku yang sedang memperhatikan para anak jalanan
lainnya.
“Wa’alaikum’salam
dek. Adik kamu mana?”
“Ikut
sama kakakku, menjual Koran kak”
“Kamu
anak keberapa dari berapa bersaudara?”
“Anak
ke-3 dari 6 bersaudara. Adikku yang kemarin anak ke-5. Kakakku yang pertama
umurnya 20 tahun, mengajar di salah satu tempat bimbingan belajar gajinya ia
gunakan untuk membantu ibu dan juga untuk membayar biaya kuliahnya, yang ke-2
masih sekolah dikelas 3 SMP, ia masuk siang jadi paginya ia menjual kantong
dipasar untuk membeli buku pelajaran yang diwajibkan dan membayar uang spp,
yang ke-4 kelas 2 SD pulang sekolah menjual Koran juga untuk biaya kebutuhan
sekolahnya, yang terakhir umurnya masih 3 tahun ikut ibu mencuci”
“Kamu
kenapa tidak sekolah? Kan hasil mengamen kamu selain untuk ibumu juga bisa kamu
sisihkan untuk biaya sekolahmu juga?”
“waktu
itu uang kompensasi dari perusahaan tempat ayah bekerja digunakan untuk
membayar ganti rugi dari pagar warga yang ditabrak sisahnya untuk makan dan
untuk biaya sekolah 2 orang saja, sementara waktu itu 3 orang yang bersekolah,
jadi aku memutuskan untuk berhenti dan bekerja. Uang yang sekarang kudapat
sebagian kutabung untuk adikku nanti, agar perihnya kehidupan tidak terlalu
mereka rasakan. Apalagi sekarang BBM naik, semua serba mahal kak.” Mai lega
berhasil mengeluargkan semua beban yang selama ditanggungnya sementara Mei? Aku
sesak mendengarkan semua perih hidupnya. Aku bersyukur masih dapat bersekolah
dari uang pensiun dini ayah dan ibuku yang meninggal dalam insiden kecelakaan
saat aku berumur 16 tahun.
“kakak
turut prihatin mendengar semua cerita Mai. Allah tidak akan menguji setiap hambanya
selain ia mampu Menghadapinya. Allah itu Maha Adil. Mai, kakak ada hadian untuk
kamu, ambil sana didalam mobil” Mai tersenyum memperlihatkan giginya yang
putih, bangkit berjalan menuju mobil, dan membukanya. Ia berteriak
sekencang-kencangnya, berlari kearahku, memelukku erat, mencium tanganku, dan
berterima kasih sebanyak mungkin. Kali ini aku tidak sanggup menahan air
mataku. Aku menangis terharu melihatnya hidup kembali, mendengarnya berucap
Alhamdulillah berkali-kali. Ya Allah, seperti inikah rasanya euforia
berlapis-lapis?
Sungguh,
aku sangat bahagia melihatnya. Dan tanpa berfikir panjang lagi, aku mengambil
keputusan. Ia mengajakku ke rumahnya dan aku mengiyakan. Aku mengantarnya
kerumah memakai mobilku. Ia masih mendekap erat hadiah yang aku berikan.
Disepanjang jalan ia melantunkan bacaan Al-Qur’an sangat fasih dengan suara
merdunya, aku merasakan ketenangan, lebih saat aku memutar lagu favoritku.
Cukup
lama untuk sampai kerumahnya. Melewati pintu gerbang perumahan ter-elit yang
ada dikota ini, semakin kedalam jalanannya semakin sempit dan aku harus
memasuki lorang-lorang yang lebih sempit lagi yang membuatku terpaksa memarkir
mobil dan berjalan kaki sekitar 70meter jauhnya. Demi Mai aku tetap sabar dan
mengikhlaskan kakiku yang sudah berdebu. Dan beberapa kali lagi aku menegaskan
Sabar bukan sifatku sama sekali. Tapi lagi-lagi Hatiku yang menjadi raja.
Ya
Allah, rumahnya Mai sepersekian dari luas rumahku. Rumah panggung dan sudah
hampir roboh kelihatannya, karena terus terguyur hujan dan angin kencang. Untuk
menaiki tangga rumahnya aku harus berfikir ulang. Takut kalau-kalau rumahnya
roboh dan aku tidak sempat terselamatkan.
“tidak
apa-apa kak, silahkan naik. isnyaAllah rumah Mai masih kuat untuk 10 tahun kedepan”
sambil tersenyum ia berkata kepadaku. Kemasygulanku terlalu jelas. Aku malu,
dan segera ke atas.
Aku
masuk kedalam rumahnya. Tidak ada kursi, hanya ada satu kamar, dan kasur
panjang tipis tergulung didepan kamarnya. Hari ini keluarganya lengkap, kecuali
adik kecilnya yang sedang tertidur pulas diatas ayunan. Aku dijamu sebaik
mungkin, rupanya Mai telah bercerita kepada keluarganya tentangku. Cepat sekali
aku akrab dengan mereka padahal sosialisaku buruk. Rasanya keluarganya telah
kukenal beribu tahun silam padahal bertemunya baru sekarang. Ibunya sungguh
tegar, Ia merangkap menjadi seorang Abah memimpin keluarga, membesarkan buah
hatinya sendiri tanpa bantuan orang lain, memberikan kasih sayangnya tanpa
kurang sedikitpun. Ini terlihat dari kedekatannya dengan buah cintanya yang
walaupun usianya sudah sekitar 40tahunan masih dapat mengimbangi cerita
anak-anaknya yang masih ABG. Dengan semua keterbatas ia mebangun heven dalam keluarganya. Sungguh aku
merasa hangat disini, didalam keluarganya.
“Mama,
aku lupa ini ada parsel dari kakak.. Astagfirullah, maafkan aku kak aku lupa
menanyakan nama kakak dari kemarin, nama kakak siapa? ” Astaga ia aku juga lupa
dari kemarin aku tidak pernah memperkenalkan namaku pada Mai.
“Iya,
perkenalkan nama aku Mei, Meirika putri” mereka tertawa, dan berterima kasih
atas untuk parselnya. Tidak lama kemudian kakak Mai yang daritadi hanya diam
dan tersenyum, menciut:
“Itu
namaku kak! Tapi aku dipanggil Meri”
“Dan
itu juga mirip nama panggilanku Mai, Muthmainnah ” Mai masih menyesal, ikut
menyahut.
“Semuanya
sungguh telah diatur oleh Allah Ta’ala. Ibu, Mei mau memohon ijin dari Ibu. Mei
mau membawa Mai tinggal bersama Mei, InsyaAllah Mei yang akan menyekolahkan
Mai, dan menyisahkan sebagian gaji dari Mai untuk membantu keuangan Ibu.
Bagaimana Ibu? Apakah Ibu mengijinkan Mai untuk tinggal bersamaku?. Dirumahku
tidak ada siapa-siapa, aku tinggal sendiri. Sebenarnya orangtuaku juga telah
lama berangkat ke pembaringan yang abadi” kataku yang awalnya bersemangat
menjadi flat. Aku tahu Ibu Mai dan
saudaranya yang walaupun senang Mai akan bersekolah tetap berat hati harus
terpisah dengan darah dagingnya. Segera aku menambahkan,
“Mai
akan berkunjung kesini setiap hari Sabtu, dan kembali Ahad Malam. Mei akan
mengantar dan menjemputnya.” Berat hatinya mulai luluh.
“MasyaAllah,
Barakallafiki. Terima kasih banyak nak, semua bantuannya. Ibu akan selalu
menyebutmu disetiap do’a ibu hanya itu yang bisa ibu berikan. Sungguh betapa
bahagia kedua orang tuamu melihat anak semata wayangnya berhati emas seperti
ini. MasyaAllah, Ibu mengijinkan nak. Jaga adikmu, dan tegurlah kalau Ia nakal”
Ibunya meneteskan air mata. Menangis tersedu memegang tanganku. Seluruh
keluarganya mendekat dan memelukku, menangis mendoakan kebaikan untukku dan Mei
yang akan tinggal bersamaku. Hatiku yang beku mencair, mengalir bersama air
mata mereka, air mata ketulusan, arti mata kebahagian dari keluar yang sakinah
ini. Tiadalah rasa yang paling bahagia,
dari yang sekarang kurasakan. Aku telah menemukan keluargaku yang hilang
bertahun-tahun.
“Mai,
ikuti kata kakakmu, jangan membantah. Dan jadilah anak yang sholehah” pesan Ibu
kepada Mai. Mai pun mengangguk dan memeluk Ibunya. Memeluk keluarga satu dan
persatu dan terakhir memelukku dengan pelukan yang sangat-sangat mendalam. Kami
pun pulang. Aku membawa adikku Mai ke rumah barunya.
“MasyaAllah,
rumah kakak begitu besar. Kakak serius tinggalnya sendiri? Halo apa ada orang
disini? Halo-halo. Ini aku Mai” ia melengkingkan suara dimana-mana. Matanya
berkeliaran sperti sedang menelanjangi seluruh isi rumahku.
“iya
Mai. Inikan rumah orangtua kakak, dulu orangtua kakak sering mengadakan meeting untuk urusan kantoran bersama
teman kerjanya disini. Ayo kakak tunjukkan kamar kamu, ada dilantai atas. Kamar
kita bersebelahan”
Setelah
aku mengajak Mai mengelili rumah, memperlihatkan semua tempat kecuali satu,
tempat rahasia didalam kamarku, aku pun menyuruhnya untuk beristirahat
berhubung besok ia akan memulai kehidupannya yang baru. Sebelum tidur, aku
mendengar Mai mengaji terlebih dahulu dan rupanya ini juga yang akan menjadi
kebiasaan baruku mendengarnya mengaji sebelum tidur.
Hari-hariku
telah berwarna, tidak lagi hambar seperti dulu. Sekarang aku lebih mencintai
rumah daripada kantor yang penuh dengan kesibukan. Aku berhasil menyekolahkan
Mai dan langsung masuk ke kelas 5 tanpa perlu mengulang kembali dari kelas 3
SD. Pulang sekolah Mai akan masuk les privat, dan aku akan menjemputnya
sepulang dari kantor. Malam harinya kugunakan untuk bersenda gurau, bertukar
cerita tentang apa yang terjadi hari ini, kegiatan disekolahnya, dan
sebagaianya, Mai adalah pembicara dan pendengar yang bijak. Disamping itu Mai
adalah anak yang cepat bergaul dan cerdas dengan bekal pesan dan ajaran dari
abahnya dulu Mai berhasil mengejar ketertinggalannya dan meraih peringkat
disekolahnya. Mai tidak pernah merepotkanku Mai cepat dalam belajar. Memasak,
membersihkan rumah, mencuci piring semuanya Mai kerjakan dan aku tidak pernah
sekalipun menyuruhnya untuk melakukan semua itu.
Pernah
suatu malam, Mai tertidur dikamarku dan aku menggendongnya ke kamarnya. Aku
memang tinggal bersama Mai tapi aku tidak pernah masuk ke kamarnya. Ini untuk
pertama kalinya, dengan susah payah aku membuka pintu kamarnya dan MasyaAllah
di depan tempat tidurnya di atas meja belajarnya hadiah yang dulu ku berikan
yang membuatnya menangis bahagia pertama kalinya didalam pelukanku, terpajang indah.
Ia membuatkan kotak berpintu dari kaca disudut meja belajarnya, menghiasinya
dengan rombe warna biru kesukaanku,
memberinya lampu hias disekelilingnya dan dengan tulisan yang mebuat air mataku
jatuh kembali. “Do’a adalah perisai dan tameng yang sesungguhnya. Dan telah
kutitipkan kakak lewat Do’aku kepada Allah. laa
tahzan. Uhibbukunna fillah. My angel, kak Mei”. Didalam kotak itu ada
“Al-Qur’an” yang kuberikan dulu tersimpan rapi dan rupanya yang selama ini
Al-Qur’an pemberiankulah yang pakai untuk mengaji. Subhanallah.
Mungkin
semua orang mengira aku akan rugi menyekolahkannya, karena sama sekali Mai
tidak akan menambah keuanganku dan tidak akan membawakan keuntungan bagiku.
Tidak, itu salah besar. Mai akan menjadi ladang pahalaku untuk akhirat. Aku juga
sungguh belajar banyak darinya. Mai mengajarkan kepadaku arti dari keikhlasan,
kesabaran, dan keteguhan hati dari semua musibah yang dialaminya. Aku
membelikannya banyak buku karena Mai juga adalah pembaca yang setia, dari buku
yang dibaca itulah Mai tahu banyak hal dan menyampaikannya kepadaku karena aku
adalah pembaca yang buruk. Ia mengajariku arti Islam yang sesungguhnya yang
bukan hanya sekedar simbol bahwa kita punya agama. Mai mengajariku cara membaca
Al-Qur’an yang baik sesuai dengan sunnah Rasullah, pentingnya sholat tepat
waktu, cara berhijab yang sempurnah, percaya hanya kepada Allah semata. Mai
adalah seorang muslimah yang kaffah.
Setiap malam aku akan menyimak hafalan Al-Qur’annya. Dan aku juga akan menyetor
hafalanku.
Lembaran
baruku telah terbuka. Kini telah kutemukan kedamaian dan ketenangan dalam
diriku. Begitu nikmat menyandarkan diri hanya kepada Allah semata. Percaya akan
semua takdir yang telah Ia gariskan kepada setiap hamba-Nya. Percaya Allah Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Alhamdulillah ya Allah engkau telah mengirimkan
Hidayah-Mu lewat Mai kepadaku. Hati dan fikiranku telah berdamai. Aku juga akan
menjadi Muslimah yang kaffah Dan aku
siap mengarungi samudera kehidupan yang lebih dalam, menyempurnakan Agamaku
dengan belahan jiwa yang Engkau akan kirimkan kepadaku.