Rabu, 24 Desember 2014

lembaran baruku telah terbuka



GOOD BYE MASYGUL, WELCOME EUFORIA
“Ayolah hati bersabarlah, berhenti menggerutu, nikmatilah kemacetan ini”
“Bagaimana mungkin aku akan bersabar. 2.100 detik dari sekarang, aku harus tiba disana. Terlambat satu detik saja gajiku akan dipotong. Dan sekarang untuk pertama kalinya, aku terjebak macet separah ini, melaju 100cm, berhenti 240 detik, melaju lagi, berhenti lagi. Sompral. Tuhan uangku akan dicuri oleh waktu. Tolonglah, singkirkan semua kendaraan yang ada di depanku ini. Ah- ini semua salah mereka. Egois”
“Kamu juga egois. Tidak sepenuhnya salah mereka. Mengapa harus memakai mobil padahal kamu sendiri. Boros waktu dan tempat. Seharusnya untuk ukuran mobil kamu, dapat menghemat 2-3 kendaraan beroda dua. Jadi dapat meminimalisir penyebab kemacetan selain kecelakaan dan mobil-mobil besar pengangkut barang”
Debat sengit antara hati dan fikiranku terus memanas. Tidak ada yang mau dikalah dan mengalah, tapi walaupun demikian anggota tubuhku yang lain tetap pro terhadap hatiku. Karena sampai detik ini aku masih menyakini hati nurani tidak pernah salah, yang salah adalan adalah ketika saraf implus menyampaikan pesan dari hati ke otak, ada bumbu-bumbu godaan syeitan laknatullah yang turut andil, sehingga apabila benteng pertahanan tidak cukup kuat maka pesan tersebut akan tercemar, dan yang terbaca di otak adalah hasil rekayasa syeitan.
Kali ini fikiran mengalah karena bagimanapun tidak ada celah untuk menang ,maka jadilah yang memegang kendali adalah hati. Untuk sedikit menenangkan fikiran kuputar lagu favoritku sepanjang jalan kenangan hingga tidak terasa mobilku telah melaju 500cm juga ada penurunan jeda menjadi 180 detik, semakin longgar dan anak kecil yang sedari tadi berdiri diseberang jalan kini telah berada tepat didepan kaca jendelaku dengan jidad dan hidungnya menempel hingga hembusan nafasnya terlihat, tanpa berkutip hanya menatap ke dalam mataku dan tersenyum. Sontak aku kaget dan hedak memarahinya –temperanku buruk- tapi sungguh yang keluar dari mulutku bukan lagi ocehan melainkan suara yang aku sendiripun tidak menyana bahwa aku melakukannya. Dengan penuh kelembutan aku bertanya: “kenapa dik?” ini bukan sifatku sama sekali. Ada kepedihan didalam matanya. Kepedihan yang sangat mendalam, yang hendak ia sembunyikan dengan memasang wajah berseri. Aku mengetahuinya, sedikit. Seseorang yang tersenyum tanpa ada makna ambigu akan menampakkan semua gigi secara natural atau hanya tersenyum penuh tanpa menampakkan gigi, sehingga secara otomatis gerakan matanya juga mengikui, menyipit dan menamppak kerutan dibagian sudutnya. Sekali lagi, mata anak ini beda. Selain kepedihan ada juga keteduhan. Keingintahuanku terusik. Ku turunkan lagi kaca jendela untuk melihatnya semakin jelas. Ditangannya ada kaleng coca-cola yang telah di potong sekitar 1cm dibagian atasnya mungkin untuk mempermudah pengambilan uang yang ia dapat, baju yang dikenakan walaupun warnanya sudah pudar tapi tetap bersih dan tidak berbau seperti kebanyakan pengamen lainnya. Badannya kurus tapi tidak dekil. Rupanya ia memperhatikan agar kebersihan dirinya tetap terjaga. Dan yang paling menarik perhatianku adalah ia tidak bernyanyi seperti kebanyakan pengamen lainnya. Ia melantunkan bacaan al-qur’an dengan fasih dengan suara yang sangat merdu dan penghayatan sempurnah. Seperti ia tahu makna dari setiap ayat yang dilafalkannya. Tuhan, anak ini..
“PIPP! PIP-PIP-PIIP!” suara klakson mobil dan motor beruntung dari belakang menghamburkan lamunanku dan sekejap anak itu sudah pergi. Jalanan didepanku kosong, tidak ada lagi kendaraan yang tadi berbaris rapi. Reflex aku menginjak pedal gas dan melaju kencang. Masih ada waktu 660 detik. Belum terlambat jika kecepatan 60km/jam sekarang kupertahankan. Tuhan menolong dan aku tiba 15 detik sebelum waktunya, syukurlah.
Aku lega uangku tetap utuh, tapi kenapa masih ada rasa yang mengganjal?. Astagah aku lupa memberi anak tadi upah dari hasil kerjanya, aku lupa menanyakan namanya, aku lupa menanyakan inisialnya. Semoga besok ia masih disana.
Hari ini aku menginginkan waktu berjalan begitu cepat, tapi kenapa sepertinya begitu lambat? Apakah karena aku menunggu waktu? Yah menunggu waktu memang pekerjaan yang paling bosankan. Semakin ditunggu akan semakin lama, seperti halnya ketika kita mengejar waktu, semakin dikejar akan semakin cepat, tapi aku juga tidak bisa acuh untuk kondisi sekarang ini. Seumur hidupku aku tidak pernah melihat anak yang mengamen sepertinya. Memelas, bernyanyi dengan suara cempreng, keringat yang bercucuran ditambah dengan bau yang tidak sedap, kotor, bahkan banyak yang tidak memakai pengalas kaki  membiarkan telapak kakinya melepuh dimakan aspal, entah itu hanya modus untuk mendapatkan simpati dari pengguna jalan lainnya atau apalah, tapi anak tadi mengambil jalan lain, sesuatu yang berbeda dan aku selalu suka yang berbeda.
 Keesokan harinya aku berangkat 3600 detik dari waktu biasanya. Pukul 06.00 wita. Aku yang kesehariannya acuh tak acuh, tiba-tiba menjadi peduli pada anak itu. Sekarang aku sudah ada di jln. Amizeland, dan memarkir mobilku didepan tempat makan Bakso Senayan. Tidak lama aku menunggu, anak itu sudah terlihat batang hidungnya, memegang erat kaleng coca-cola dengan pakaian yang ia kenakan kemarin, sandal swallow orange dan rambutnya di kepang, menoleh kiri-kanan memperhatikan kendaaran dan hendak menyebrang tapi sebelum itu terjadi aku lebih dulu memanggilnya, ia menoleh kepadaku menunjuk diri dan menghampiriku.
“Ada apa kak? Ada yang bisa Mai bantu?” tanyanya dengan tersenym seperti senyumnya kemarin. Ternyata namanya Mai, ini sudah terencenakan atau apa? Namanya hampir sama dengan namaku, Mei.
“Tolong belikan kakak air mineral ukuran sedang, nutriboost, sari roti dan good time disana yah? Ini uangnya” tanpa bertanya lagi ia segera pergi menuju mini mart yang tadi ku tunjukkan. Jalannya begitu cepat, baju yang ia kenakan lebih besar dari ukuran badannya –sampai lutut- jadilah seperti bendera yang sedang berkibah.
“Ini kak, air mineral Rp. 3000 + nutriboost Rp. 5.500 + good time Rp. 8.200 dan sari roti Rp. 4000 totalnya Rp. 20.700. uang kakak tadi Rp. 50.000 kembaliannya 29.300” sambil menyodorkan kepadaku. Lagi-lagi aku ia membuatku terkejut. Lengkap dengan rinciannya. Tanpa berfikir lama, perhitungan tadi keluar dari mulutnya begitu saja, seperti sedang membaca. Anak ini, anak siapa?.
Aku keluar dari dalam mobil dan berdiri disampingnya. Ada begitu banyak pertanyaan yang hendak kulontarkan, tapi semuanya tertahan. Sepertinya aku sedang di doti.
“Masih ada yang bisa Mai bantu kak? Mai harus kerja, adikku sedang menunggu disana” sambil menjuk ke anak kecil seumuran dengan anak sahabatku, sekitar 5 tahunan yang sedang jongkok menghadap kekami.
Aku tidak menjawab. Rasa penasaranku harus berakhir hari ini. Maka aku memegang tangannya mengambil makanan yang tadi kubeli dan menyebrang jalan menghampiri adiknya. Bukan kami yang diperhatikan adiknya, tapi makanan yang kubawa. Aku memberinya, ia segera mengambil, mencium tanganku, dan berterima kasih. Kakaknya juga berterima kasih dan mencium tanganku seperti yang dilakukan adiknya. Dibaginya makanan yang ia terima bersama kakaknya, disisakan 2 untuk dibawa pulang. Tuhan, air mataku hampir jatuh.
“Kamu tidak sekolah? Ibu kamu mana?” aku mengalihkan perhatian dengan bertanya agar air mataku tidak berceceran.
“Sejak kelas 3 SD aku berhenti sekolah dan memutuskan untuk bekerja menambah penghasilan ibu kak. Ibu juga sekarang lagi kerja, mencuci di rumah tetangga gajinya tidak akan cukup membiayai untuk tetap bersekolah. Jangankan sekolah untuk makan 3 kali seharipun sulit kak.”
“Ayah kamu mana?”
“Sudah dipanggil Allah” kali ini adiknya yang menyahut.
“Iya kak, waktu aku kelas 2 SD. Umurku 8 tahun, adikku 2 tahun. Abah meninggal karena kecelakaan. Mobil yang ia bawa, menabrak pagar rumah orang. Kata dokter jantungnya kumat saat sedang menyetir. Abah tidak sempat terselamatkan dan meninggal beberapa menit setelah kami semua anak-anaknya berkumpul” ia bercerita sambil menahan tangis, nafasnya berat. Aku menoleh ke arah adik dan adiknya sudah berlinangan air mata dengan tetap memakan makanannya.
“Maafkan kakak, kakak tidak bermaksud mengorek luka yang susah payah kalian timbun” aku menyesal telah bertanya. Seketika kecerian wajahnya memudar.
“Bukan salah kakak. Suka atau tidak ini sudah menjadi takdir kami kak, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya” sambil tersenyum mengambil makanan yang diberikan adiknya
“Jadi sekarang umurmu berapa?”
“Kalau aku sekolah aku akan duduk dikelas 5 SD. 11 tahun kak”
“Ooh. Kemarin waktu kamu ngamen di mobil kakak, kamu tidak menyanyi tapi mengaji, kenapa?” akhirnya aku bertanya ke titik pointnya
“Dulu waktu abah masih hidup, abah selalu mengajarkan kepada saya cara mengaji yang benar menghafal al-qur’an karena katanya ada banyak kemuliaan yang akan kita dapatkan, abah tidak pernah mengajarkan kepada saya cara menyanyi dan menghafal lagu yang benar karena itu adalah nyanyian syeitan. Jadi saya hanya tahu mengaji bukan menyanyi kak.” MasyaAllah, aku jadi malu mendengarnya. Sekarang rasanya aku sedang berguru kepada anak kecil, seorang pengamen yang baru ku kenal, lewat pesan-pesan dari abahnya.
“kakak, tidak kerja?” aku tersontak lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 07.52 wita, 480 detik lagi. Aku segera pergi dan berjanji akan menemuinya besok ditempat ini. Sebelumnya ia menarik tanganku menyalaminya, berterima kasih lagi bersama adiknya, dan berpesan agar aku berhati-hati dijalan. Aku pergi.
 Aku tidak terlambat, sampai dikantor semua teman yang mulai sibuk bekerja aku sapa, kupanggil namanya, dan mengucupkan selamat pagi. Mereka memasang wajah bingung, mungkin sedang bertanya “Apa yang merasuki Mei yang selama ini dingin, kaku tiba-tiba memasang wajah manis dan bersikap ramah?” aku hanya tersenyum dan karena tersenyum adalah penyakit menular, maka merekapun ikut tersenyum. Sepanjang hari aku merasakan euforia, mungkin efek akibat doti anak tadi.
Besok adalah hari Sabtu,  freeday untuk pekerja kantoran. Itu berarti akan ada banyak waktu untuk berbincang-bincang dengannya, dengan Mai. Entahlah, walaupun usiaku dan usianya terpaut jauh -10 tahun- aku tetap merasa nyaman. Fikirannya yang melampaui anak seumurannya, wajahnya yang selalu berseri, lisung pipit yang dalam dikedua pipinya, adalah bumbu-bumbu penambah rasa nyaman saat aku berbicara dengannya.
Freeday pun tiba. Aku membawa 1 bingkisan untuk Mai, 1 parsel untuk keluarganya. Aku memang takut uangku dicuri waktu, aku jarang mentraktir teman-teman kantor, aku jarang mengisi amplop undangan dengan uang  yang lebih dari Rp. 100.000 karena bagiku, untuk apa mentraktir, memberi uang banyak pada mereka padahal mereka berkecukupan, bahkan lebih dari cukup –kaya-. Aku menabung untuk akhirat kepada mereka yang memang membutuhkan. Didalam ajaran Islam sangat dianjurkan untuk bersedekah yaitu pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya selain itu namanya hadiah.
“Assalamu’alaikum kak, sudah lama?” Mai mengagetkanku yang sedang memperhatikan para anak jalanan lainnya.
“Wa’alaikum’salam dek. Adik kamu mana?”
“Ikut sama kakakku, menjual Koran kak”
“Kamu anak keberapa dari berapa bersaudara?”
“Anak ke-3 dari 6 bersaudara. Adikku yang kemarin anak ke-5. Kakakku yang pertama umurnya 20 tahun, mengajar di salah satu tempat bimbingan belajar gajinya ia gunakan untuk membantu ibu dan juga untuk membayar biaya kuliahnya, yang ke-2 masih sekolah dikelas 3 SMP, ia masuk siang jadi paginya ia menjual kantong dipasar untuk membeli buku pelajaran yang diwajibkan dan membayar uang spp, yang ke-4 kelas 2 SD pulang sekolah menjual Koran juga untuk biaya kebutuhan sekolahnya, yang terakhir umurnya masih 3 tahun ikut ibu mencuci”
“Kamu kenapa tidak sekolah? Kan hasil mengamen kamu selain untuk ibumu juga bisa kamu sisihkan untuk biaya sekolahmu juga?”
“waktu itu uang kompensasi dari perusahaan tempat ayah bekerja digunakan untuk membayar ganti rugi dari pagar warga yang ditabrak sisahnya untuk makan dan untuk biaya sekolah 2 orang saja, sementara waktu itu 3 orang yang bersekolah, jadi aku memutuskan untuk berhenti dan bekerja. Uang yang sekarang kudapat sebagian kutabung untuk adikku nanti, agar perihnya kehidupan tidak terlalu mereka rasakan. Apalagi sekarang BBM naik, semua serba mahal kak.” Mai lega berhasil mengeluargkan semua beban yang selama ditanggungnya sementara Mei? Aku sesak mendengarkan semua perih hidupnya. Aku bersyukur masih dapat bersekolah dari uang pensiun dini ayah dan ibuku yang meninggal dalam insiden kecelakaan saat aku berumur 16 tahun.
“kakak turut prihatin mendengar semua cerita Mai. Allah tidak akan menguji setiap hambanya selain ia mampu Menghadapinya. Allah itu Maha Adil. Mai, kakak ada hadian untuk kamu, ambil sana didalam mobil” Mai tersenyum memperlihatkan giginya yang putih, bangkit berjalan menuju mobil, dan membukanya. Ia berteriak sekencang-kencangnya, berlari kearahku, memelukku erat, mencium tanganku, dan berterima kasih sebanyak mungkin. Kali ini aku tidak sanggup menahan air mataku. Aku menangis terharu melihatnya hidup kembali, mendengarnya berucap Alhamdulillah berkali-kali. Ya Allah, seperti inikah rasanya euforia berlapis-lapis?
Sungguh, aku sangat bahagia melihatnya. Dan tanpa berfikir panjang lagi, aku mengambil keputusan. Ia mengajakku ke rumahnya dan aku mengiyakan. Aku mengantarnya kerumah memakai mobilku. Ia masih mendekap erat hadiah yang aku berikan. Disepanjang jalan ia melantunkan bacaan Al-Qur’an sangat fasih dengan suara merdunya, aku merasakan ketenangan, lebih saat aku memutar lagu favoritku.
Cukup lama untuk sampai kerumahnya. Melewati pintu gerbang perumahan ter-elit yang ada dikota ini, semakin kedalam jalanannya semakin sempit dan aku harus memasuki lorang-lorang yang lebih sempit lagi yang membuatku terpaksa memarkir mobil dan berjalan kaki sekitar 70meter jauhnya. Demi Mai aku tetap sabar dan mengikhlaskan kakiku yang sudah berdebu. Dan beberapa kali lagi aku menegaskan Sabar bukan sifatku sama sekali. Tapi lagi-lagi Hatiku yang menjadi raja.
Ya Allah, rumahnya Mai sepersekian dari luas rumahku. Rumah panggung dan sudah hampir roboh kelihatannya, karena terus terguyur hujan dan angin kencang. Untuk menaiki tangga rumahnya aku harus berfikir ulang. Takut kalau-kalau rumahnya roboh dan aku tidak sempat terselamatkan.
“tidak apa-apa kak, silahkan naik. isnyaAllah rumah Mai masih kuat untuk 10 tahun kedepan” sambil tersenyum ia berkata kepadaku. Kemasygulanku terlalu jelas. Aku malu, dan segera ke atas.
Aku masuk kedalam rumahnya. Tidak ada kursi, hanya ada satu kamar, dan kasur panjang tipis tergulung didepan kamarnya. Hari ini keluarganya lengkap, kecuali adik kecilnya yang sedang tertidur pulas diatas ayunan. Aku dijamu sebaik mungkin, rupanya Mai telah bercerita kepada keluarganya tentangku. Cepat sekali aku akrab dengan mereka padahal sosialisaku buruk. Rasanya keluarganya telah kukenal beribu tahun silam padahal bertemunya baru sekarang. Ibunya sungguh tegar, Ia merangkap menjadi seorang Abah memimpin keluarga, membesarkan buah hatinya sendiri tanpa bantuan orang lain, memberikan kasih sayangnya tanpa kurang sedikitpun. Ini terlihat dari kedekatannya dengan buah cintanya yang walaupun usianya sudah sekitar 40tahunan masih dapat mengimbangi cerita anak-anaknya yang masih ABG. Dengan semua keterbatas ia mebangun heven dalam keluarganya. Sungguh aku merasa hangat disini, didalam keluarganya.
“Mama, aku lupa ini ada parsel dari kakak.. Astagfirullah, maafkan aku kak aku lupa menanyakan nama kakak dari kemarin, nama kakak siapa? ” Astaga ia aku juga lupa dari kemarin aku tidak pernah memperkenalkan namaku pada Mai.
“Iya, perkenalkan nama aku Mei, Meirika putri” mereka tertawa, dan berterima kasih atas untuk parselnya. Tidak lama kemudian kakak Mai yang daritadi hanya diam dan tersenyum, menciut:
“Itu namaku kak! Tapi aku dipanggil Meri”
“Dan itu juga mirip nama panggilanku Mai, Muthmainnah ” Mai masih menyesal, ikut menyahut.
“Semuanya sungguh telah diatur oleh Allah Ta’ala. Ibu, Mei mau memohon ijin dari Ibu. Mei mau membawa Mai tinggal bersama Mei, InsyaAllah Mei yang akan menyekolahkan Mai, dan menyisahkan sebagian gaji dari Mai untuk membantu keuangan Ibu. Bagaimana Ibu? Apakah Ibu mengijinkan Mai untuk tinggal bersamaku?. Dirumahku tidak ada siapa-siapa, aku tinggal sendiri. Sebenarnya orangtuaku juga telah lama berangkat ke pembaringan yang abadi” kataku yang awalnya bersemangat menjadi flat. Aku tahu Ibu Mai dan saudaranya yang walaupun senang Mai akan bersekolah tetap berat hati harus terpisah dengan darah dagingnya. Segera aku menambahkan,
“Mai akan berkunjung kesini setiap hari Sabtu, dan kembali Ahad Malam. Mei akan mengantar dan menjemputnya.” Berat hatinya mulai luluh.
“MasyaAllah, Barakallafiki. Terima kasih banyak nak, semua bantuannya. Ibu akan selalu menyebutmu disetiap do’a ibu hanya itu yang bisa ibu berikan. Sungguh betapa bahagia kedua orang tuamu melihat anak semata wayangnya berhati emas seperti ini. MasyaAllah, Ibu mengijinkan nak. Jaga adikmu, dan tegurlah kalau Ia nakal” Ibunya meneteskan air mata. Menangis tersedu memegang tanganku. Seluruh keluarganya mendekat dan memelukku, menangis mendoakan kebaikan untukku dan Mei yang akan tinggal bersamaku. Hatiku yang beku mencair, mengalir bersama air mata mereka, air mata ketulusan, arti mata kebahagian dari keluar yang sakinah ini. Tiadalah rasa yang paling  bahagia, dari yang sekarang kurasakan. Aku telah menemukan keluargaku yang hilang bertahun-tahun.
“Mai, ikuti kata kakakmu, jangan membantah. Dan jadilah anak yang sholehah” pesan Ibu kepada Mai. Mai pun mengangguk dan memeluk Ibunya. Memeluk keluarga satu dan persatu dan terakhir memelukku dengan pelukan yang sangat-sangat mendalam. Kami pun pulang. Aku membawa adikku Mai ke rumah barunya.
“MasyaAllah, rumah kakak begitu besar. Kakak serius tinggalnya sendiri? Halo apa ada orang disini? Halo-halo. Ini aku Mai” ia melengkingkan suara dimana-mana. Matanya berkeliaran sperti sedang menelanjangi seluruh isi rumahku.
“iya Mai. Inikan rumah orangtua kakak, dulu orangtua kakak sering mengadakan meeting untuk urusan kantoran bersama teman kerjanya disini. Ayo kakak tunjukkan kamar kamu, ada dilantai atas. Kamar kita bersebelahan”
Setelah aku mengajak Mai mengelili rumah, memperlihatkan semua tempat kecuali satu, tempat rahasia didalam kamarku, aku pun menyuruhnya untuk beristirahat berhubung besok ia akan memulai kehidupannya yang baru. Sebelum tidur, aku mendengar Mai mengaji terlebih dahulu dan rupanya ini juga yang akan menjadi kebiasaan baruku mendengarnya mengaji sebelum tidur.
Hari-hariku telah berwarna, tidak lagi hambar seperti dulu. Sekarang aku lebih mencintai rumah daripada kantor yang penuh dengan kesibukan. Aku berhasil menyekolahkan Mai dan langsung masuk ke kelas 5 tanpa perlu mengulang kembali dari kelas 3 SD. Pulang sekolah Mai akan masuk les privat, dan aku akan menjemputnya sepulang dari kantor. Malam harinya kugunakan untuk bersenda gurau, bertukar cerita tentang apa yang terjadi hari ini, kegiatan disekolahnya, dan sebagaianya, Mai adalah pembicara dan pendengar yang bijak. Disamping itu Mai adalah anak yang cepat bergaul dan cerdas dengan bekal pesan dan ajaran dari abahnya dulu Mai berhasil mengejar ketertinggalannya dan meraih peringkat disekolahnya. Mai tidak pernah merepotkanku Mai cepat dalam belajar. Memasak, membersihkan rumah, mencuci piring semuanya Mai kerjakan dan aku tidak pernah sekalipun menyuruhnya untuk melakukan semua itu.
Pernah suatu malam, Mai tertidur dikamarku dan aku menggendongnya ke kamarnya. Aku memang tinggal bersama Mai tapi aku tidak pernah masuk ke kamarnya. Ini untuk pertama kalinya, dengan susah payah aku membuka pintu kamarnya dan MasyaAllah di depan tempat tidurnya di atas meja belajarnya hadiah yang dulu ku berikan yang membuatnya menangis bahagia pertama kalinya didalam pelukanku, terpajang indah. Ia membuatkan kotak berpintu dari kaca disudut meja belajarnya, menghiasinya dengan rombe warna biru kesukaanku, memberinya lampu hias disekelilingnya dan dengan tulisan yang mebuat air mataku jatuh kembali. “Do’a adalah perisai dan tameng yang sesungguhnya. Dan telah kutitipkan kakak lewat Do’aku kepada Allah. laa tahzan. Uhibbukunna fillah. My angel, kak Mei”. Didalam kotak itu ada “Al-Qur’an” yang kuberikan dulu tersimpan rapi dan rupanya yang selama ini Al-Qur’an pemberiankulah yang pakai untuk mengaji. Subhanallah.
Mungkin semua orang mengira aku akan rugi menyekolahkannya, karena sama sekali Mai tidak akan menambah keuanganku dan tidak akan membawakan keuntungan bagiku. Tidak, itu salah besar. Mai akan menjadi ladang pahalaku untuk akhirat. Aku juga sungguh belajar banyak darinya. Mai mengajarkan kepadaku arti dari keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan hati dari semua musibah yang dialaminya. Aku membelikannya banyak buku karena Mai juga adalah pembaca yang setia, dari buku yang dibaca itulah Mai tahu banyak hal dan menyampaikannya kepadaku karena aku adalah pembaca yang buruk. Ia mengajariku arti Islam yang sesungguhnya yang bukan hanya sekedar simbol bahwa kita punya agama. Mai mengajariku cara membaca Al-Qur’an yang baik sesuai dengan sunnah Rasullah, pentingnya sholat tepat waktu, cara berhijab yang sempurnah, percaya hanya kepada Allah semata. Mai adalah seorang muslimah yang kaffah. Setiap malam aku akan menyimak hafalan Al-Qur’annya. Dan aku juga akan menyetor hafalanku.
Lembaran baruku telah terbuka. Kini telah kutemukan kedamaian dan ketenangan dalam diriku. Begitu nikmat menyandarkan diri hanya kepada Allah semata. Percaya akan semua takdir yang telah Ia gariskan kepada setiap hamba-Nya. Percaya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alhamdulillah ya Allah engkau telah mengirimkan Hidayah-Mu lewat Mai kepadaku. Hati dan fikiranku telah berdamai. Aku juga akan menjadi Muslimah yang kaffah Dan aku siap mengarungi samudera kehidupan yang lebih dalam, menyempurnakan Agamaku dengan belahan jiwa yang Engkau akan kirimkan kepadaku.

Rabu, 10 Desember 2014

Azyan

TERLAHIR KEMBALI
Seorang wanita muslimah yang sholeha, tutur katanya lembut, berjiwa sosial, aktifis, intinya sosok akhwat sejati yah itulah defenisi sebagian besar orang terhadapnya bahkan akupun sangat kagum kepadanya. Walaupun ia yang kerap di panggil Laurent si jibab lebar, karena jilbabnya memang lebih lebar dibanding gadis seumurannya, tapi itu tidak menjadi penghalang baginya untuk berbaur dan meyatu dengan kami.
Laurent bukan berasal dari keluarga ustadz yang paham agama dan sebagainya, melainkan dari keluarga yang awam dan berkepala biru. Semua anggota keluarganya kaya raya, berpengetahuan luas tapi sayang kurang berilmu. Pengetahuan dan ilmu itu beda, pengetahuan menyangkut dunia dan ilmu menyangkut dunia dan akhirat. Mungkin karena ia menyadari kekurangannya itu maka ia pun mulai belajar agama sedikit demi sedikit yang ia dapat dari paman google secara otodidat. Semua informasi tentang agama yang ia dapatkan dirangkum dalam sebuah buku kemudian mulai menerapkannya. Ia mulai belajar mengenali Tuhannya, sholat, menjalankan sunnah-sunnah rasulullah dan sebagainya. Setelah ia merasa sudah sedikit tahu tentang agama, artinya sudah dapat membentengi dirinya, ia pun mendakwakannya pada keluarga sama seperti nabi dulu. Laurent tidak mendapatkan respon yang positif bahkan kedua orang tuanya sekalipun berkata “ setan apa yang menobatkanmu anak tengik? ” tetapi laurent berusaha sabar dan tersenyum. Ia terus berdakwa kepada keluarganya tak peduli ejekan saudara-saudaranya yang menyayat hati. Hingga akhirya keluarganya mendapat hidayah dan mau mendengar apa yang lauren selama ini katakan entah mungkin alasannya karena tidak ada efek negative yang di timbulkan atau apalah, wallahu alam. Setelah itu lauren dan keluarganya yang memang terkenal sebagai keluarga yang ramah mulai berdakwa kepada tetangganya dan ke penduduk lampung lainnya. Inilah hidayah Allah keluarga yang awalnya sangat ambu-radu, selalu hanyut dalam kemewahan dunia kini menjadi sebuah keluarga da’i yang gemar berdakwa.
Bertahun-tahun kemudian sudah sekitar 80  masyarakat di daerah tersebut mau belajar agama dan mendalaminya. Hingga tiba suatu hari Lauren ingin berhijrah ke tempat lain, ia ingin berdakwa disana dan melanjutkan sekolahnya, ia pun menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya,
“ummi, Laurent ingin berhijrah ke tempat lain seligus ingin melanjutkan sekolah Laurent hingga S3, apakah ummi mengizinkan?”
“dimana tempatnya Laurent?” katanya umminya dengan muka datar
“suatu tempat yang penduduknya penuh dengan kebatilan, hanya dihitung jari yang paham agama, nama tempatnya Broncerter, Ummi?”
“tidak, ummi tidak mengizikanmu pergi ke tempat itu! Apakah Laurent yakin bisa menjaga diri Laurent dan menjamin keselamatan laurent?”
“ummi, segala sesuatu itu sudah diatur oleh Allah, baik buruknya hal yang akan terjadi itu sudah menjadi takdir Allah, jadi Ummi tak perlu khawatir ada Allah yang menjaga Laurent kok, insyaAllah laurent akan baik-baik saja” kata Laurent dengan penuh kelembutan
“ya sudahlah nak, kalau memang itu keinginanmu silahkan pergi kami merestuimu, tapi ingat jangan sekali-kali lupa pada Allah. Kapan Laurent akan balik?”
“iya ummi, syukron. insyaAllah di ramadhan ke 7 setelah tahun ini Laurent akan balik”.
Tanggal keberangkatan Laurent pun telah tiba, ia akan pergi berhijrah di jalan Allah dengan berbekal semangat, ilmu dan sedikit harta yang di bawanya. Namun siapa sangka ini adalah awal bala bencana yang menimpanya.
Tiba di kota tersebut ia akan menjalani kehidupan barunya yang lebih menantang yang di penuhi orang-orang asing di sekitarnya, tak ada kerabat yang di kenalinya hanya Allah saja yang menemaninya. Setelah menyewa apartement yang dekat dari bandara itu, ia pun beristirahat dan mulai menata baik-baik hal yang akan di lakukan kedepannya. Belum lagi sempat menutup mata, kebisingan, music yang menggelegar yang bersumber dari suatu diskotik, bau alcohol telah menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Ternyata tepat di samping apartemennya ada sebuah diskotik besar yang di huni oleh para penikmat dunia, buka 12 jam dari jam 06 malam hingga jam 06 pagi. Karena tak dapat tidur Laurent pun membuka mushab al-qur’annya dan mulai membacanya hingga hatinya tenang dan dapat tertidur lelap. Keesokan harinya Laurent keluar dari apartemennya, bermaksud untuk menanyakan dimana kampus terdekat yang menyajikan fakultas untuk kedokteran. Ia pun bertemu dengan seorang wanita yang berpakaian sutra tak cukup, nampaknya ia baru pulang dari diskotik tersebut
“permisi, bolehkah aku bertanya?” kata Laurent sopan
“iya” dengan tatapan sinis wanita tersebut mengiyakan
“terima kasih, dimana kampus terdekat yang bisa di jangkau dari sini?”
“kenapa? aku lagi buru-buru lain kali saja jawabannya” jawab wanita tersebut berlalu
“iya, maaf sista” sebenarnya ada perasaan kecewa dari hati Laurent, awalnya ia berharap ada sebuah jawaban yang baik darinya karena nampaknya seorang yang berpendidikan tapi nyatanya ia malah mengacuhkan pertanyaannya. Kemudian Laurent terus berjalan berharap ada seseorang yang baik hati yang akan menunjukkan jalan ke fakultas yang di inginkannya. Tak terasa matahari sudah berada di atas kepalanya sementara ia belum menemukan setidaknya mushallah dulu untuk sholat dan istirahat. Dia berfikiran untuk balik ke apartementnya dulu tapi terlihat dikejauhan ada sebuah rumah yang menandakan ada kehidupan, maklum saja di sepanjang jalan memang banyak rumah yang di laluinya tapi sepertinya sedang kosong. laurent pun melangkah kembali, ternyata di rumah tersebut ada beberapa wanita yang mungkin usianya masih 20-an, tetapi sedang asyik bersama para kekasihnya.
“Hei lihat tuh, orang katro’ berjalan, hari gini pakai baju gitu isss, sudah ngg’ jaman kale. Hahaha dasar kudet” kata salah satu dari mereka menggunjing
“Mirip orang tua dulu saja, sekarang tuh dunia sudah berubah, sudah modern jeng, ngaca’ dong” dengan tatapan sinis meremehkan salah satu dari mereka menimpali. Tetapi Laurent tidak mengindahkan kata-katanya, ia terus mendekat dan berkata
“Assalamu’alaikum, maaf mengganggu waktunya sebentar, boleh saya bertanya?” kata Laurent memberanikan diri bertanya kepadanya
“Mau nanya’ apa? Di sini ng’ jual jubah” jawab salah seorang temannya sambil tertawa
Laurent tetap sabar dan kembali berkata:
“Afwan, universitars yang punya fakultas kedokteran ada tidak dekat sini ukhty? Mushollahnya ada ukhty?” kata Laurent lembut
“Haaa? Di sini ngngak ada nama afwan jeng, ehh kudet. Salah alamat kale! Huuu”
“Yee kudet-kudet tapi cantik juga yah, hahhaha lembut lagi, wuih” kata seorang pemuda meliriknya
“Ada koq jeng untuk fakultas kedokteran dari sini lurus saja ke sana, sekitar meterlah, kalau untuk mushollahnya, sini aku antar ke rumahku saja, karena ng’ ada mushollah di sini jeng, ada tapi jauh banget, yuk” kata wanita yang hitam manis tersebut, hanya dia yang menjawabnya dengan baik, kemudian mengantarkannya ke rumahnya
“Dasar sok-sokkan loh, sok berhati malaikat”, kata salah satu temannya mengejeknya
“Syukron katsiron ukhty, mari.”
Singkat cerita laurent pun kembali ke apartemennya, setelah bersalaman dan pamit untuk pulang. Di perjalanan, Laurent tak henti-hentinya mengingat Allah, dan takkan pernah melupakan saudaranya tadi yang telah banyak berjasa.
Setibanya di apartement laurent langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok, kemudian beristirahat. Hari-harinya berjalan dengan lancar, semua urusannya dengan mudah terselesaikan. Tak sulit baginya mendapatkan banyak teman baru, dan nilai A dalam ujiannya, orangnya yang supel, ramah dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata sangat patut dibanggakan. Berbagai prestasi dapat di raihnya, namanya begitu terkenal Laurent Aurela Arika satu-satunya perempuan berjilbab lebar yang sangat cantik dan menawan dalam fakultasnya. Akan tetapi keimanannya mulai menipis, tak sering lagi mengingat Allah. Laurent hampir saja lupa akan tujuan untamanya untuk berdakwah, ia hampir saja hanyut dalam duniawinya, kalau bukan karena Allah yang mengingatkan Laurent lewat mimpinya akan pesan-pesan ibunya sebelum berangkat mungkin ia akan seperti temannya yang sekarang ini. Setiap malam banyak temannya yang berdatangan keapartemennya untuk menginap setelah pulang dari diskotik, tak jarang Laurent merasa risih terhadap bau alkohol dan asap rokok, tapi ia tak enak hati menyuruhnya pulang. Hingga..
“Werra, gimana sih rasanya ? itu yang biasa kau minum hingga mabuk?” Tanya Laurent pensaran. Sebenarnya Laurent sudah hampir terlena akan apa yang ada dihadapannya hanya teman-temannya mengingatkannya walaupun hanya sebagian kecil.
“Ini tuh namanya bir, awalnya orang yang meminum akan mengatakan kecutlah, nga’ enaklah, apalah tapi lama kelamaan akan kecanduan juga. Tapi kalau Laurent mau coba jangan yah, nga’ baik sih tapi enak hehe”
“Sudah cobakan saja werra siapa tau Laurent mau mencoba, maklumkan jilbabers. Hehe piss”
“Aku penasaran pengen coba, coba dikit deh, bagi dong lilu ” kata Laurent sudah mulai goyah akan pendiriannya
“Jangan rent” kata werra mencoba melarang
“Sudahlah kamu saja kan minum, kasih saja biar Laurent tau rasanya”
Laurent pun mencobanya, setelah mencobanya sedikit ia hampir saja muntah tidak tahan dengan baunya, tapi setelah itu ia minta lagi dan lagi. Malam itu Laurent menghabiskan 2 botol wine. Malam-malam berikutnya pun demikian selalu saja mabuk, mulai belajar merokok, ke diskotik bahkan sudah melepaskan jilbabnya dan tak lagi mengingat Allah. Sejak malam kemarin Laurent sudah hanyut dalam kesenangan yang ia peroleh, pesan-pesan ibunya sudah ia abaikan. Bahkan ibunya menelpon berkali-kali ia tidak mengangkatnya, tidak peduli apakah itu penting atau tidak. Berpakaian seperti layaknya teman-teman lainnya hanya saja masih agak tertutup sedikit. Teman-teman di kelasnya berkomentar
“Laurent kamu kenapa? Mana jilbab kamu yang selalu menutupi keindahan tubuhmu? Mana sikap tawadu’ kamu? Kenapa kamu seperti ini?” kata wira prihatin yang merupakan teman dekat laurrent.
“Ada di rumah ke tinggalan tadi” jawab Laurent seadanya.
Sikap laurent yang sekarang berbalik 180  dari yang dulu tak ada lagi sikap muslimahnya, tak ada lagi rasa malunya, memamerkan auratnya yang memanjakan mata lelaki yang melihatnya.
Sekarang sudah memasuki ramadhan yang ke 7, tapi Laurent lupa akan janjinya kepada umminya bahwa akan pulang saat ramadhan ke 7 mendatang, bukan saja janjinya ia pun lupa akan kedua orang tuanya, tak pernah lagi memberi kabar dan menghubungi orang tuanya. Barang-barang perbekalannya hampir habis di jualnya demi mendapatkan obat-obatan terlarang.  Dan malam itupun tiba.
Dua malam terakhir sebelum idhul fitri, teman-teman terdekat laurent berencana untuk berlebaran bersama di daerah Sumigo, akan tetapi Laurent tiba-tiba menghilang, teman-temannya tak tau dimana Laurent berada, di hubungi berkali-berkali tetapi tidak ada jawaban. Teman-temannya mulai cemas akan keadaan Laurent, tak biasanya laurent begini. Semuanya berpencar mencari Laurent. Di sisi lain, laurent telah di sekap di daerah terpencil oleh sekelompok lelaki yang tidak di kenalinya. Laurent pun sadar, ketika sadar ia tak tau di mana dia berada sekarang. Tak ada orang, hanya takbir ramadhan idul fitri yang menggema di menara-menara mesjid. “Allaahu akbar, allahuakbar, allahu akbar, laailaaha illallaahu allahuakbar, allahu akbar walillaa ilham” Laurent pun menangis sejadi-jadinya bukan karena ia di sekap melainkan akan dosa-dosanya yang selama ini ia perbuat ia telah melupakan Allah, ia telah jauh dari Allah tidak lagi menjalankan ibadah-ibadah yang kemarin rutin di lakukannya, tidak pernah lagi lagi berpuasa selama 4 ramadhan terakhir. Menyesal, berlinangan air mata memohon ampun pada sang khalik akan dosa-dosanya selama ini.
“Hah! Apa yang kau tangisi tak akan ada yang menolongmu dasar bedebah!” kata salah seorang diantaranya yang bertubuh paling kekar
“Malam ini kamu akan menjadi santapan kami. bodymu boleh juga yah, haha” kata yang lain menimpali
Laurent hanya diam, sedikitpun ia tak gentar akan ancaman para lelaki itu. Kepercayaannya akan kuasa Allah telah membuatnya kuat dan penghayatannya terhadap alunan takbir ramadhan idhul fitri itu telah menutup telinganya untuk mendengar kata-kata kotornya. Yang ada di fikirannya hanya bagaimana caranya bisa keluar dan bersuci kemudian menemui rumah Allah itu.
“Hei jangan melamun! Atau ku pecahkan kepalamu. Siapa namamu lonte?”
Kata-katanya yang begitu keras membangunkan Laurent dari lamunannya.
“Laurent pak”
“nama yang indah seindah tuannya. Cari makan dulu yuk lapar nih, sekalian juga buat dia”
Para lelaki itupun pergi mncari makan. Sementara Laurent berusaha untuk melepaskan diri, ia berusaha mencari cara dan mendapati pecahan beling kemudian memotong tali pengikat tangannya. Ia pun membuka handphonenya menghubungi teman-temannya untung handphoonenya mempunyai software LJS jadi sekarang ia tau dimana laurent berada. Setelah ia pun membaca sms yang mauk dalah satu dari kedua orang tuanya
assalamu’alaykum Laurent sayang, bagaimana kabarnya sekarang nak? Sekarang sudah memasuki tahun ke 7 ramadhan, sebagaimana janjimu, waktunya kamu pulang nak. Sungguh ummi sangat mengkhawatikanmu. 2 bulan lalu kami tertimpa musibah terjadi gempa dahsyat. Alhamdulillah kami semua selamat. Pada bulan berikutnya abamu jatuh sakit, ia terserang penyakit leukimia, setelah sebulan sakit ia mengigau-ngigau namamu, ia begitu rindu padamu nak,ia berpesan jika Laurent pulang nanti ia ingin menjadi orang yang pertama memelukmu dan melaksanakan haji ke baitullah bersamamu nak, tetapi tak selang beberapa hari ia pun di panggil oleh sang maha Agung, tak banyak yang bisa kami perbuat kami pun menghubungimu tetapi tidak Laurent angkat. Cepat pulang nak kami sangat merindukanmu, semoga Allah selalu melindugimu. Aamiin. Ummi
Penyesalan tiada tara menyelimuti hati lautrent, ia pun menangis dan terus menangis sambil menyebut nama ummi dan abanya. Sebelum para lelaki itu datang, teman-temannya sudah datang menyelamatkannya, dan kembali ke apartement. Di perjalanan ia hanya diam seribu kata, teman-temannya bingung namun bahagia melihat Laurent kembali. Tiba di apartement, Laurent langsung mensucikan diri, kemudian sholat wajib, dan sholat taubat. Takbir ramadhan masih menggema, malam itu ia tidak tidur, terus menjalankan ibadah kepada Allah. Memohon taubat kepadaNya, berpuasa keesokan harinya dan kembali ke kampung halamannya. Tapi sebelumnya ia berpesan kepada teman-temannya:
Kejadian kemarin yang menimpaku sungguh karena aku telah  lalai kepadaNya, aku telah sempat melupakannya. Kuasa Allah, Alhamdulillah beruntung aku masih berada dalam lindungannya, disadarkannya hingga detik terakhir bulan suci bisa ku raih, di sebabkan Allah melalui takbir dalam ramadhan itu sebelumnya aku telah terlena dengan kemewahan dunia yang akan menggelapkanku, kemudian aku sadar betapa besar keangungan Allah, bentuk tubuh dan panorama yang indah hanya salah satu dari  perwujudannya. Sejuknya iman bisa ku raih hanya dengan dekat kepadanya.”

Ketika Hidayah Datang Menghampiri

AKU YANG BARU
Ini adalah kisahku beberapa bulan yang lalu, dimana pada waktu itu aku benar-benar awam akan ilmu agama, aku memang seorang muslim, tapi perilakuku banyak yang menyimpang dari ajaran islam. Malam itu adalah saksi pertaubatanku, hidayah dari sang khalik datang melalui sahabatku Zahira.
“Assalamu’alaikum, Zahra”
“Waalaikumsalam, iya ra masuk aja” teriakku dari kamar. Itu suara Zahira, sahabatku yang tak pernah lelah mengajakku sholat tarawih di mesjid meski beberapa kali aku tolak. Sudah jadi kebiasaannya setiap mau ke mesjid pasti mampir ngajak aku dulu, maklum  jarak rumahku dengan rumahnya lumayan dekat, hanya terpisah beberapa rumah saja. Banyak orang beranggapan aku dengan Zahira bagai kanan dan kiri, dari segi fisik sangat nampak bedanya. Zahira seorang akhwat, seorang muslimah, tutur katanya lembut sementara aku seorang rock and roll, karena perawakanku sama sekali tak menunjukkan sosok seorang perempuan yang feminim dan sebagainya, aku tomboy gaya bicaraku pun kasar tapi masih sopan dan rendah hati, bukannya narsis tapi kenyataan, para teman dan tetangga sering memujiku, kadang kala saat dipuji aku sering berbesar kepala, Zahira pun selalu mengingatkanku “pujian itu bagian dari suatu bencana” entah apa maksud dari kata Zahira itu.
“bumm…” Zahira memukul pundakku mengagetkanku
“Aduh, apaan sih ra bikin kaget aja, untung jantungku nggak copot. Kalau iya, sudah dalam jeruji kamu” kataku sambil tertawa
“Abisnya kamu sih ngelamun, ayo mikirin apa coba?”
“Mikirin dia. hahaha”
“Ayo deh ambil air wudhu sana, sudah mau iqamah. Entar kita masbuq lagi!”
“Kan bisa sholat disini iyakan-iyakan? Tunggu yah”. kataku cengar-cengir sambil berlalu. Ia tak pernah kesal padaku walau sering kali aku mengumbar emosinya, ia juga tak pernah malu berteman dengan aku yang punya geng preman dan brandalan, hanya saja nasehatnya padaku tak pernah lepas. Bosan juga sih di nasehatin melulu, andainya saja teman yang lain, sudah aku sikat mulutnya. Mungkin aku tak berani menyakitinya karena dia satu-satunya sahabatku yang paling pengertian dan yang paling betah berteman denganku sejak umur 13 tahun hingga sekarang 17 tahun dan semoga saja selamanya.
Setibanya di mesjid aku dan Zahira langsung sholat ikut imam, ternyata sudah telat satu rakaat, kelamaan tadi di rumahku jadinya masbuq deh. “pasti besok zahira datangnya lebih cepat lagi, nggak bisa nonton dulu, huh” gerutuku dalam sholat. Selesai sholat dengar ceramah dulu sebelum tarawihan. Aku paling malas dengar ceramah belum sempat kabur Zahira sudah mergoki aku, nasib-nasib
“Mau kemana ra?”
“Mau ke toilet bentar”
“Sini aku antar”
“Ngg’ perlu ra, aku bisa sendiri koq”
“Bilang aja mau kabur, kebiasaan buruk dengar dululah Zahra temanya bagus koq, pembawaan ceramahnya juga keren”
“Tapi ra” belum sempat ngomong Zahira sudah tahu ngelesku
“Dengarlah ra, pencerahan seperti ini tuh sangat bermanfaat kapan lagi kalau bukan bulan ramadhan?”
“Iya-iya Zahira, nih aku dengar”
“Jangan mayun, ikhas karena Allah Zahra yang manis ” kata Zahirah sambil tersenyum padaku, dia pasti tau kalau aku lagi kesal.
Malam-malam taraweh berikutnya pun sama, Zahira selalu saja melarangku keluar, hingga aku pun terbiasa dan mulai ikhlas dari keterpaksaan, duduk, diam, dengar ceramah tanpa peduli makna darinya “ yang penting kan dengar ”.
Ceramah pun berakhir, tapi entah kenapa perkataan ustadz yang ceramah tadi terus terngiang ditelingaku. Sambil berbisik dalam hati aku bertanya “betulkah perkataanya? Kalau memang betul apa aku tidak akan mencium bau surga? rasanya semua perkataannya tertuju padaku, Wadduh mati aku!” rasa penasaranku pun muncul  hingga aku bertanya ke Zahira yang lebih paham agama saat pulang dari mesjid
“Ra, tadi aku dengar ustadz Dg. Massese bilang gini “sesungguhnya sebilang ahli neraka adalah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya” (HR. Bukhari dan Muslim) apa sih maksudnya? Berpakaian tapi telanjang itu yang mana? Tanyaku mendesak
“Maksudnya berpakaian tapi telanjang itu yang hanya membungkus auratnya bukannya menutup, defenisi membungkus dan menutup itu beda, membungkus masih terlihat bentuknya sementara menutup tidak sama sekali. Seperti menampakkan lekuk tubuhnya hingga semuanya tercetak dengan jelas, misalnya berpakaian ketat, jeans dan sebagainya. Coba lihat perempuan yang memakai baju merah diseberang sana, bagaimana pendapat zahra tentang perempuan itu? kita bisa tau kan, besar betisnya, pahanya, bokongnya, lingkar dada, dan pokoknya tanpa melepaskan pakaiannyapun kita bisa tau ukurannya. Kalau tentang masuk syurga wallahua’lam karena itu adalah hadist, perkataan Rasullah yang shohi jadi kebenarannya bisa dipercaya”.
“seperti pakaian aku ra?” tanyanku kemudian
“kurang lebih seperti itu”
“tapi pakaian kayak kamu norak, sudah nggak jaman! Pakaian yang ngetren tuh kayak sekarang ini, Zahira! sangkalku
“Begitulah cara orang-orang yang ingin memboikot islam, mereka mengatur siasat bagaimana cara menghilangkan moral orang-orang Islam, diantaranya dengan menduniakan budayanya, misalnya saja dari segi pakaian yang kayak gini, hehe (sambil memegang lengan bajunya) dan parahnya sebagian besar orang Islam tertipu!”
Aku merenungi pernyataan Zahira, ternyata memang betul. Bodohnya aku ya Allah!
“maaf ra, bukan maksud aku…”
“aku nggak marah kok Zahira, maaf yah mungkin tadi nada bicaraku agak keras, maaf yah Zahra” kata Zahira tahu maksud aku
“Tidak apa-apa, makasih yah ra, aku baru sadar akan realita sekarang” kataku sambil memeluk Zahira
“Kamu mau yah ra’ pakai jilbab dan berhijab menutup auratmu? aku nggak mau kamu terus-terusan berdosa gara-gara mengumbar yang wajib kamu tutup, dalam hadist nabi hukumannya diakhirat begini “wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalan mereka yang tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
 “Haaa? Astagfirullah. Tapi aku nggak punya pakaian muslimah?”
“Entar pakai pakaianku saja ra, ada kok untuk kamu lagian kita kan seukuran” kata Zahira sambil menahan tawa
“Iya ra, InsyaAllah bantu aku yah? Tapi aku masih malu teman-temanku pasti menertawaiku dan menjadikanku bahan ejekannya”
“Ngapain mesti malu ra? Harusnya malah bangga bercahaya di mata Allah diantara semuanya. Zahra pilih mana dibenci Allah atau dibenci teman?”
“Dibenci teman, tapi apa nggak gerah pakai jilbab? Apalagi jilbab kayak gini?” kataku sambil menunjuk jilbab Zahira yang lebar
“InsyaAllah nggak Zahra, kalau sudah terbiasa malahan dingin. Hikmahnya juga menutup aurat kita akan terhindar dari pelecehan-pelecehan seksual yang marak terjadi”
“InsyaAllah akan ku coba, tapi bagaimana dengan hari-hari kemarin? Apa yang harus kukatakan jika teman-temanku yang lain mengejekku?”
“Tidak ada dosa bagi yang tidak tahu ra, jawab saja ini perintah Allah. Islam itu mudah sayang. Ehh kalau Zahra mau langsung pakai jilbab kayak aku J?” kata Zahira semangat
“Makasih Zahira, tapi aku mau coba dulu jilbab yang biasa saja yah, bolehkan?”
“Iya-iya Zahra yang manis. Alhamdulillah engkau telah mendapat hidayah dari Allah”
“Alhamdulillah, mampir dulu Zahira?” ternyata aku sudah sampai depan rumahku
“Iya, ra makasih. Lain kali saja J
Aku telah berjanji akan menutup aurat, mau tidak mau harus kulakukan walau masih sedikit bimbang, tapi kalau ingat hadist itu dan apa yang dikatakan Zahira kepadaku rasanya aku kuat untuk melangkah. Zahira terus mengingatkanku lewat sms, jangan sampai aku berubah fikiran. Senang rasanya malam ini dan akupun tertidur lelap. Saat sahur, tiba-tiba Zahira datang dan ternyata dia membawakanku pakaian muslimah yang ia janjikan.
Keesokan harinya aku nggak keluar rumah, malu banget rasanya orang-orang pasti beranggapan “setan apa yang menyambarnya? Nelan ludah sendiri deh” tak tahu mau ditaru dimana mukaku, aku dulu nggak suka liat orang yang berjilbab, mati-matian aku menolaknya jika di tawari, tapi sekarang? Aku pun mengeluh ke Zahira tapi ia hanya menjawab
“Zahra, itu hanya fikiranmu doang yang berlebihan, hasutan syetan supaya kamu nggak jadi berhijab. Berpegang teguhnya kepada Allah! palingan masyarakat yang melihatmu hanya berkata “Alhamdulillah Zahra berubah” tenang saja Allah ada kok, nggak usah cemas ra. Dalam hadist pun tertulis “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mreka mengulurkan jilbabnya keseluruhan tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tida diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS. Al-ahzab : 59).
“Sudah jelaskan? Jadi tak ada alasan lagi Zahra cemas yahJ
Aku tambah semangat berhijab dengan jawaban Zahira yang terus mendukungku. Sering kali lupa keluar rumah tanpa mengenakan jilbab tapi Alhamdulillah tetangga dan teman yang melihat langsung mengingatkanku, hingga aku pun malu pada diriku sendiri. Rasanya sungguh mantap ibadah ramadhanku bulan ini. Dengan berhijab, mengenakan jilbab pula aku bisa lebih mengontrol diri dari nafsuku karena secara spontan aku akan sadar “aku telah berhijrah, nggak boleh lagi seperti dulu” apalagi aku tahu dalam pergaulan ada yang namanya muhrim dan bukan muhrim, nah yang bukan muhrim ini hukumnya haram untuk bersentuhan dalam hadist nabi “sesungguhnya kepala yang ditusuk besi itu lebih baik dari pada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya” (HR. At-Thabrani dan Baihaqi). Aku baru sadar, akan semua hal yang dianggap biasa, sudah lazim, namun dosanya luar biasa. Kedepannya, sebagaimanapun perihnya hidup, aku akan berusaha untuk tetap istiqamah dan menjadi muslimah yang kaffah. Welcome my new self.